Alasan Menggembala Domba dan Kangen Orangtua, 4 Siswa Sekolah Rakyat di KBB Memilih Mengundurkan Diri

Kepala Dinas Sosial (Dinsos) KBB, Dr. Idad Saadudin, S.Sos., M.Kes., saat menjelaskan perkembangan Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) di Sentra Wiyata Guna Bandung, Kecamatan Cisarua dihadapan anggota DPRD KBB, Senin (13/10/2025).(Dok.Dinsos KBB).**

SATUMEDIA.ID – Alasan selalu ingat orangtua, empat siswa Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) di Sentra Wiyata Guna Bandung, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB) memilih mengundurkan diri.

“Pada September lalu, mereka mengundurkan diri dari SRMP dengan alasan tidak mau sekolah ber-asrama karena selalu ingat orangtuanya,” kata Kepala Dinas Sosial (Dinsos) KBB, Dr. Idad Saadudin, S.Sos., M.Kes., Selasa (14/10/2025).

Bahkan, lanjut Idad, ada di antara anak tersebut memilih keluar dari SRMP dengan alasan ingin menggembala domba di kampungnya. Padahal pihak sekolah sudah membujuk dan merayu akan menyiapkan domba jika kelak sudah menyelesaikan sekolah.

“Pada intinya, keempat anak itu memilih keluar dari SRMP tak bisa dilepaskan dari kurang supportnya pihak orang tua sendiri. Meski sudah diberi pencerahan,” tandasnya.

Padahal, lanjut Idad, pemerintah memiliki tujuan mulai dengan menyelenggarakan Sekolah Rakyat yaitu memutus mata rantai kemiskinan melalui pendidikan. Pendidikan menjadi jembatan untuk mengubah masa depan dan keluar dari lingkaran kemiskinan.
Selain itu, membuka wawasan bahwa melalui Sekolah Rakyat cita-cita mereka bukanlah mimpi lagi.

“Tentunya ini menjadi sebuah tantangan bagi kami semua. Kita akan terus meningkatkan sosialisasi, meningkatkan kemampuan petugas saat rekrutmen calon siswa sehingga mau ikut Sekolah Rakyat, dan meningkatkan kemampuan wali asuh dan wali asrama menghadapi anak yang kondisinya mentalnya belum siap,” tuturnya.

Lebih jauh diungkapkannya, keempat siswa yang mengundurkan diri itu sudah diganti oleh 4 siswa cadangan. Sehingga jumlah kuotanya sudah terpenuhi sebanyak 100 siswa. Mereka sudah menyelesaikan
Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS).

“Sekarang seluruh siswa sudah mengikuti kegiatan belajar mengajar,” ucapnya.

Ia menambahkan, tantangan sekarang adalah penyediaan lahan untuk Sekolah Rakyat yang akan dibangun oleh pemerintah pusat, untuk program tahun ajaran 2026 dan seterusnya.

“Dibutuhkan lahan seluas 5 hektare untuk pembangunan fasilitas pendidikan tambahan yang akan dibiayai oleh pemerintah pusat pada tahun ajaran 2026.

“Tanggung jawab kita di daerah adalah memastikan ketersediaan lahan agar program ini bisa terus berkelanjutan. Kami berharap ada dukungan konkret dari yang berwenang dalam penyediaan lahan. Pemerintah pusat sudah siap membantu pembangunan fisiknya,” tuturnya.

SRMP ini bukan hanya sekolah, tapi pondasi masa depan. Ketika anak-anak dari keluarga kurang mampu mendapatkan akses pendidikan yang layak, di sanalah harapan Bandung Barat yang lebih sejahtera mulai tumbuh.*

Pos terkait