Penyakit Kronis Jadi Pemicu, Ini Penjelasan Lengkap Pemerintah atas Kematian Badak Jawa Musofa

Kementerian Kehutanan Republik Indonesia memberikan penjelasan resmi terkait penyebab kematian Musofa, individu pertama Badak Jawa yang berhasil ditranslokasi dalam Program Operasi Merah Putih di Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK).(Dok.TNUK).**

SATUMEDIA.ID –  Kementerian Kehutanan Republik Indonesia memberikan penjelasan resmi terkait penyebab kematian Musofa, individu pertama Badak Jawa yang berhasil ditranslokasi dalam Program Operasi Merah Putih di Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK).

Penjelasan ini disampaikan agar publik memperoleh informasi akurat, transparan, dan berbasis sains mengenai peristiwa tersebut.

Dalam konferensi pers di Jakarta, Wakil Menteri Kehutanan Rohmat Marzuki menyampaikan duka mendalam sekaligus paparan menyeluruh mengenai proses translokasi dan penyebab kematian satwa langka tersebut.

“Pertama-tama, izinkan kami menyampaikan rasa duka mendalam atas wafatnya Musofa, individu Badak Jawa yang menjadi bagian penting dari upaya penguatan populasi di Taman Nasional Ujung Kulon,” ujar Rohmat.

Rohmat menegaskan bahwa translokasi Musofa dilakukan mengikuti standar ilmiah dan etika konservasi satwa liar. Program ini, katanya, merupakan langkah strategis untuk memperluas sebaran populasi Badak Jawa sekaligus meningkatkan peluang reproduksi satwa yang kini berstatus Kritis menurut IUCN.

“Populasi Badak Jawa berada pada titik kritis, menghadapi ancaman inbreeding, rendahnya keragaman genetik, dan keterbatasan ruang hidup. Translokasi menjadi intervensi ilmiah penting untuk memastikan keberlangsungan spesies,” katanya.

Ia menjelaskan, seluruh tahapan Operasi Merah Putih dirancang matang dengan melibatkan tenaga ahli nasional dan internasional, Mabes TNI, dokter hewan, serta mengacu pada SOP konservasi, analisis etik, simulasi operasi, hingga kesiapan logistik dan keamanan.

Penyebab Kematian: Penyakit Kronis Bawaan

Terkait penyebab kematian, Wamenhut membeberkan hasil pemeriksaan medis gabungan Balai TNUK, tim dokter, dan tim patologi Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis IPB University. Musofa diketahui memiliki penyakit kronis bawaan yang tidak terdeteksi sebelum translokasi.

“Hasil nekropsi menunjukkan adanya kerusakan kronis pada hati, paru-paru, dan otak, serta infeksi parasit signifikan pada saluran pencernaan,” ujarnya.

Rohmat memastikan seluruh prosedur medis telah mengikuti standar internasional dan diaudit oleh tim ahli independen.

“Kami memahami kekhawatiran publik. Namun kami pastikan setiap langkah penanganan Musofa dilakukan oleh tenaga terbaik dengan tingkat kehati-hatian tinggi,” katanya.

Wamenhut menekankan bahwa proses translokasi, meskipun diwarnai duka tetap menjadi tonggak ilmiah penting bagi konservasi Badak Jawa ke depan. Pengalaman ini akan digunakan untuk memperkuat deteksi dini penyakit, standar kesehatan populasi badak, serta protokol keselamatan dalam translokasi satwa liar.

“Kami mengajak publik terus mendukung upaya konservasi. Badak Jawa adalah simbol kekayaan hayati Indonesia, dan kami berkomitmen menjalankan setiap langkah dengan transparansi dan akuntabilitas,” kata Rohmat.

Musofa memasuki pit trap pada Senin (3/11/2025) pukul 20.15 WIB dan segera ditangani tim dokter. Karena cuaca ekstrem selama dua hari, proses pemindahan menunggu situasi aman.

Pada Rabu (5/11/2025) pukul 14.20 WIB, Musofa dibawa menuju Javan Rhino Study and Conservation Area (JRSCA) menggunakan KAPA Marinir TNI AL, dan tiba selamat pukul 20.00 WIB tanpa luka akibat translokasi. Musofa masih dapat makan dan beraktivitas normal.

Namun pada Jumat (7/11/2025), kondisi Musofa menurun drastis. Tim dokter melakukan tindakan darurat, tetapi Musofa dinyatakan tidak dapat diselamatkan pada pukul 16.16 WIB.

Nekropsi dilakukan keesokan harinya oleh tim patologi SKHB IPB University, yang menemukan penyakit kronis bawaan pada lambung, usus, dan otak sebagai penyebab kematian.

Konferensi pers turut dihadiri Asops Panglima TNI, Komandan Korem 064/Maulana Yusuf selaku Komandan Satgas Operasi Merah Putih, Komandan Lanal Banten, Kepala Balai TNUK, Ketua Yayasan Badak Indonesia, serta tim dokter hewan Operasi Merah Putih—termasuk Prof drh Bambang Pontjo Priosoeryanto, Dr drh Mawar Subangkit, dan Dr drh Muhammad Agil.*

Pos terkait