SATUMEDIA.ID – Setiap suara ambulans yang berhenti di depan Posko Disaster Victim Identification (DVI) Puskesmas Pasirlangu selalu membuat tubuh Eulis (45) menegang. Matanya yang sembab tak lepas dari pintu masuk posko, sementara tangannya gemetar menahan cemas yang tak kunjung reda.
Warga Kampung Pasir Kuning, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat itu tengah menanti kabar tentang sepuluh anggota keluarganya yang menjadi korban longsor. Hingga Senin (26/1/2026), baru tiga orang yang berhasil ditemukan.
“Ada sepuluh orang sanak saudara saya yang menjadi korban. Baru tiga yang ditemukan,” ujar Eulis dengan suara terbata-bata, sembari mengusap air mata yang terus mengalir.
Ketiga korban ditemukan dalam kondisi mengenaskan. Mereka ditemukan sedang berpelukan di dalam sebuah kamar yang tertimbun material longsor. Ketiganya adalah pasangan suami istri Ujang Koswara dan Ai, serta anak mereka, Nina.
Diduga, ketiganya terjebak di dalam kamar saat longsor menerjang rumah mereka pada dini hari. Tanah bercampur batu dan lumpur menimbun bangunan, tanpa memberi kesempatan untuk menyelamatkan diri.
“Saya hanya bisa berdoa supaya keluarga saya dan seluruh korban lainnya bisa segera ditemukan,” kata Eulis lirih.
Ia masih mengingat jelas malam mencekam saat bencana itu terjadi. Hujan deras mengguyur kawasan Cisarua sejak malam, disertai padamnya aliran listrik. Dalam gelap dan dingin, tiba-tiba terdengar suara gemuruh keras, disusul getaran tanah yang membuat panik warga.
“Kejadiannya sekitar jam 2 dini hari. Saya dengar suara ribut-ribut dari luar, lalu buru-buru menyelamatkan diri. Semuanya terjadi sangat cepat,” tuturnya.
Eulis bersyukur rumah yang ditempatinya luput dari terjangan longsor. Material longsor berhenti sekitar 10 meter dari rumahnya. Namun keselamatan itu harus dibayar mahal dengan kehilangan orang-orang terdekat.
Kini, di tengah duka yang mendalam, Eulis mengaku belum mampu memikirkan langkah selanjutnya, termasuk soal pemakaman anggota keluarganya.
“Apakah nanti disatukan dalam satu liang lahat atau bagaimana, itu akan kami bicarakan bersama keluarga,” ucapnya pelan.
Sementara itu, Kepala Bidang Humas Polda Jawa Barat Kombes Pol Hendra Rochmawan menyampaikan, hingga Minggu (25/1/2026) sore pukul 17.00 WIB, sebanyak 25 kantong jenazah telah dievakuasi dan dibawa ke Posko DVI untuk proses identifikasi.
“Jumlah kantong jenazah yang diterima hingga sore ini sebanyak 25 kantong, berdasarkan sinkronisasi data tim lapangan dan posko,” ujar Hendra.
Ia menjelaskan, laporan awal menyebutkan 105 orang dinyatakan hilang, terdiri dari 82 warga. Pada hari kedua pencarian, petugas kembali menemukan tiga jenazah utuh, sehingga jumlah korban yang dievakuasi terus bertambah.
Hingga kini, tim DVI Polda Jawa Barat telah berhasil mengidentifikasi 11 korban. Sepuluh korban teridentifikasi dalam kondisi jenazah utuh, sementara satu korban dikenali melalui potongan tubuh berupa tangan.
Korban yang telah teridentifikasi antara lain Suryana (57), Jajang Tarta (35), Dadang Apung (60), Nining (40), Nurhayati (42), Lina Lismayanti (43), A I Sumarni (35), Koswara (40), Koswara (26), dan Ayu Yuniarti (31). Selain itu, M Kori (30) teridentifikasi dari potongan tubuh.
“Proses identifikasi masih terus berjalan. Korban yang sudah teridentifikasi telah kami rilis, sementara sisanya masih menjalani pemeriksaan lanjutan,” kata Hendra.
Menurutnya, hingga Minggu sore masih terdapat 10 jenazah dan satu bagian tubuh yang belum teridentifikasi. Tim DVI berupaya mempercepat proses tersebut demi memberikan kepastian bagi keluarga korban yang masih menunggu dengan harap cemas di sekitar posko.*





