Ramadan Bahagia, Baznas KBB Bantu Puluhan Anak Cerebral Palsy

Baznas KBB menyalurkan bantuan kepada Yayasan Anak Bunda Istimewa bersama Komunitas Keluarga Cerebral Palsy Bandung Raya dalam program Ramadan Bahagia, Rabu (4/3/2026).(Istimewa).**

SATUMEDIA.ID – Semangat berbagi di bulan suci Ramadan kembali dirasakan anak-anak penyandang disabilitas di Kabupaten Bandung Barat (KBB). Baznas KBB menyalurkan bantuan kepada Yayasan Anak Bunda Istimewa bersama Komunitas Keluarga Cerebral Palsy Bandung Raya dalam program Ramadan Bahagia di Cimareme, Rabu (4/3/2026).

Ketua Baznas KBB, Iing Nurdin mengatakan bantuan yang disalurkan berupa paket sembako dan pampers sesuai kebutuhan yang diajukan yayasan.

“Ini bagian dari program Ramadan Bahagia. Ke depan, kami berharap bisa melakukan intervensi berupa bantuan modal usaha untuk orang tua anak berkebutuhan khusus, seperti yang sudah kami lakukan pada pelaku UMKM,” ujar Iing.

Ia menambahkan, Baznas KBB juga membuka peluang dukungan untuk pengadaan alat bantu seperti kursi roda apabila ada pengajuan lanjutan dari pihak yayasan.

Harapannya, lanjut Iing, kolaborasi ini tidak hanya meringankan beban keluarga selama Ramadan, tetapi juga membuka jalan menuju kemandirian ekonomi bagi para orang tua yang selama ini menjadi garda terdepan dalam merawat anak-anak istimewa mereka.

Sementara itu, bantuan dari Baznas KBB menjadi kali ketiga diterima Yayasan Anak Bunda Istimewa. Pada kegiatan resmi yang digelar di Cimareme itu, sebanyak 30 anak menjadi penerima manfaat langsung.

Ketua Yayasan Anak Bunda Istimewa, Rika Yulianti Windriani, menjelaskan total anggota komunitas di KBB saat ini mencapai 64 anak. Sementara itu, sekitar 700 anak dengan cerebral palsy tersebar di wilayah Bandung Raya.

“Anak dengan cerebral palsy memiliki disabilitas ganda yang menyangkut fisik, mental, dan intelektual,” ujar Rika.

Ia menuturkan, sebagian besar anak belum dapat mandiri bahkan hingga dewasa. Kondisi tersebut membuat mereka membutuhkan pendampingan intensif dari keluarga, termasuk dukungan alat bantu seperti stroller dan kursi roda.

Menurut Rika, sekitar 85–90 persen keluarga anggota di KBB berasal dari kalangan ekonomi menengah ke bawah dengan penghasilan di bawah Upah Minimum Kabupaten (UMK). Meski demikian, para orang tua tetap aktif mengikuti kegiatan rutin bulanan yang digelar di Batujajar, Cililin, dan sejumlah titik lainnya di KBB.

“Tantangan utamanya adalah pendekatan kepada keluarga yang masih merasa minder serta persoalan transportasi untuk mengantar anak-anak berkebutuhan khusus,” katanya. “Namun melalui komunitas, para orang tua bisa saling menguatkan.”

Ke depan, pihak yayasan berharap ada program pemberdayaan ekonomi bagi orang tua anak cerebral palsy agar mampu menopang kebutuhan rumah tangga secara lebih mandiri. Saat ini, komunikasi dengan dinas terkait mulai dijajaki, meski Dinas Sosial disebut telah memberikan bantuan alat kesehatan secara berkala.*

 

Pos terkait