Waspada Saat Mudik, Ini 6 Jalur Rawan Kecelakaan di Bandung Barat

Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) KBB, Mochamad Ridwan.(Dicky Mawardi/Satumedia).**

SATUMEDIA.ID – Pemerintah Kabupaten (Pemkab)  Bandung Barat  memetakan enam ruas jalan rawan kecelakaan (laka) yang perlu diwaspadai pemudik saat arus mudik dan balik Lebaran 2026. Jalur tersebut memiliki karakteristik medan yang berpotensi memicu kecelakaan, mulai dari tanjakan curam hingga tikungan tajam.

Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) KBB, Mochammad Ridwan Evi, mengatakan keenam jalur tersebut yakni Jalan Dago Giri, Jalan Punclut, Jalan Raya Purwakarta, Jalan Raya Cipatat, Jalan Raya Lembang, serta Jalan Cipeundeuy–Cikalongwetan.

Menurut Ridwan, kondisi geografis jalan di wilayah tersebut menjadi faktor utama tingginya potensi kecelakaan, terutama saat volume kendaraan meningkat selama musim mudik.

“Karakter jalannya ada yang menanjak dan menurun curam, tikungan tajam, bahkan ada ruas lurus yang memicu kendaraan melaju dengan kecepatan tinggi. Karena itu kami mengimbau pemudik untuk lebih berhati-hati,” ujarnya, Kamis (12/3/2026).

Selain jalur rawan kecelakaan, Dishub KBB juga memetakan 15 titik rawan kemacetan yang diperkirakan menjadi simpul kepadatan kendaraan selama arus mudik dan arus balik Lebaran.

Beberapa lokasi tersebut berada di kawasan pasar, simpang jalan utama, hingga kawasan wisata. Di antaranya Pasar Rajamandala Kulon, Pasar Saguling, Pasar Batujajar, Simpang BBS–Cipatik, Pasar Tagog Padalarang, Simpang Purabaya, Simpang Stasiun Whoosh Padalarang, Gedong Lima, Jembatan Chombipar, Simpang Caringin, Simpang Cimareme, Simpang SPBU Cibogo, Pasar Panorama Lembang, Simpang Ingimetal, Simpang Beatrik, serta kawasan wisata Farmhouse Lembang.

Untuk mengantisipasi kepadatan kendaraan, Dishub KBB menyiapkan rekayasa lalu lintas yang akan diterapkan secara situasional sesuai kondisi di lapangan.

“Manajemen rekayasa lalu lintas akan disesuaikan dengan kondisi di lapangan, termasuk kanalisasi jalur. Personel kami juga akan ditempatkan di titik-titik yang berpotensi macet,” kata Ridwan.

Dishub KBB memprediksi dua gelombang lonjakan pemudik pada musim mudik tahun ini. Gelombang pertama diperkirakan terjadi pada 14–15 Maret 2026 seiring penerapan kebijakan work from anywhere (WFA). Sementara gelombang kedua diperkirakan berlangsung pada 18–19 Maret 2026, bertepatan dengan libur Hari Raya Nyepi yang berlanjut hingga akhir pekan.

Untuk memantau pergerakan kendaraan, Dishub KBB akan memaksimalkan sistem Automatic Traffic Control System (ATCS). Sebanyak 129 kamera CCTV yang tersebar di 59 titik akan memantau kondisi lalu lintas secara real time selama periode mudik.

Selain itu, Dishub KBB juga menyiapkan lima posko pelayanan, yakni Posko Induk di Kantor Pemkab Bandung Barat, Posko Padalarang, Posko Lembang, Posko BBS–Cipatik, serta satu posko tambahan di wilayah Padalarang.

Sebanyak 120 personel akan disiagakan baik di posko maupun secara mobile untuk melakukan pemantauan di jalur mudik.

Untuk mendukung pengamanan lalu lintas, Dishub KBB juga menyiapkan berbagai perlengkapan, di antaranya 10 rambu portable, 10 water barrier, 150 traffic cone, serta 30 life jacket.

Ridwan berharap para pemudik dapat mematuhi aturan lalu lintas dan meningkatkan kewaspadaan, khususnya saat melintasi jalur rawan kecelakaan di wilayah Bandung Barat.

“Kami berharap masyarakat bisa memanfaatkan informasi ini agar perjalanan mudik lebih aman dan lancar,” kata Ridwan.*

Pos terkait