SATUMEDIA.ID – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi frekuensi gempa susulan pasca-gempa utama bermagnitudo 7,6 yang mengguncang Maluku Utara pada 2 April 2026 menunjukkan tren penurunan signifikan.
Berdasarkan analisis statistik terbaru, seluruh rangkaian aktivitas tektonik tersebut diperkirakan akan meluruh sepenuhnya dalam kurun waktu dua hingga tiga minggu sejak kejadian gempa utama.
Deputi Bidang Geofisika BMKG, Nelly Florida Riama, mengungkapkan bahwa hingga 9 April 2026 pukul 06.00 WIB, tercatat sebanyak 1.378 gempa susulan, dengan 25 di antaranya dirasakan oleh masyarakat.
“Data harian menunjukkan penurunan yang konsisten. Pada hari pertama tercatat 394 kejadian, kemudian menurun menjadi 91 gempa pada hari keenam, dan 63 gempa pada hari ketujuh,” ujar Nelly di Jakarta, Kamis (9/4/2026).
Meski demikian, ia menegaskan bahwa intensitas gempa selama masa peluruhan masih bersifat fluktuatif sehingga getaran yang dirasakan masyarakat sesekali masih mungkin terjadi sebelum kondisi benar-benar stabil.
BMKG bersama tim survei gabungan dari Pusat, Balai Besar MKG Wilayah IV, serta Unit Pelaksana Teknis (UPT) Maluku Utara dan Sulawesi Utara terus melakukan validasi dampak di lapangan. Hasil survei makroseismik menunjukkan tingkat guncangan terbesar mencapai skala VII Modified Mercalli Intensity (MMI) di Kecamatan Pulau Batang Dua. Temuan ini sejalan dengan peta guncangan (shakemap) yang telah diterbitkan BMKG.
Selain itu, verifikasi lapangan juga menemukan jejak rendaman tsunami setinggi 0,5 hingga 1,5 meter di sejumlah wilayah, yakni Bitung, Pulau Lembeh, Minahasa Utara, dan Minahasa Tenggara. Temuan ini mengonfirmasi akurasi sistem Peringatan Dini Tsunami BMKG yang saat kejadian menetapkan status “Siaga.”
Untuk menjamin keselamatan warga selama masa pemulihan, BMKG juga melakukan pengukuran mikrozonasi guna memetakan kerentanan tanah terhadap potensi likuefaksi dan longsor. Upaya ini disertai dengan sosialisasi masif kepada masyarakat untuk menangkal informasi hoaks yang kerap memicu kepanikan.
“Edukasi terkait prosedur evakuasi mandiri yang benar menjadi prioritas utama tim di lapangan agar warga memiliki pemahaman mitigasi yang tepat,” kata Nelly.
Imbauan Tetap Waspada
Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt.) Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Rahmat Triyono, mengimbau masyarakat untuk tetap waspada namun tidak panik.
Ia menekankan pentingnya menghindari bangunan yang telah mengalami kerusakan struktural atau retakan signifikan guna mencegah risiko runtuhan akibat gempa susulan.
Selain itu, masyarakat juga diminta menjauhi area lereng perbukitan yang rawan longsor akibat ketidakstabilan tanah pasca-gempa.
Dengan tren gempa susulan yang terus menurun serta berbagai langkah mitigasi yang dilakukan, diharapkan kondisi di wilayah terdampak dapat segera pulih dan aktivitas masyarakat kembali berjalan normal.*





