SATUMEDIA.ID – Bakal calon Bupati Bandung Barat, Asep Ismail mengatakan bahwa sosok pemimpin Kabupaten Bandung Barat (KBB) ke depan harus bisa menjadi pelayan masyarakat, bukan memposisikan diri seperti raja baru.
“Insya Allah salah satu solusi pemimpin ke depan Bandung Barat adalah pelayan masyarakat. Bukan raja baru yang membuat kelompok sendiri mengakali APBD untuk kepentingan diri dan kelompoknya,” kata Asep Ismail yang merupakan mantan Kepala Kemenag KBB pada Kamis (20/6/2024).
Ia mengajak.kepada semua elemen masyarakat di Bandung Barat agar belajar dari pengalaman dan yakin bahwa pemimpin yang terlahir dari Tanah dan Air KBB mampu menunjukan kedewasaan menjadi pelayan masyarakat serta menjadi teladan bagi generasi selanjutnya.
Menurutnya, berdirinya KBB merupakan anugrah dari Allah SWT yang patut disyukuri. Bentuk rasa syukur yang perlu dilakukan dengan menjalin silaturahmi antar komponen. Sehingga setiap dari individu yang merasa memiliki Bandung Barat bersikap untuk terus berupaya mengembangkan pembangunan dalam model yang beragam sesuai profesi masing masing.
“Sinergitas antar kelompok menjadi hal yang fundamental, karena pelaksanaan pembangunan daerah bukan hanya hak eksekutif maupun legislatif. Sangat kecil jumlah ASN di banding penduduk KBB, sangat kecil APBD KBB di banding dana yang di kelola masyarakat dalam kehidupan keseharian dalam peran pembangunan di lingkungan masing masing,” tuturnya.
Oleh sebab itu, kata Asep, menjadi jauh panggang dari api, mubah jika kepemimpinan eksekutif di KBB tidak mampu larut menjadi satu bagian dengan masyarakat secara luas
Pemerintahan Bandung Barat di HUT yang ke 17.
“Menjadi sangat tragis karena menerima ujian yang bertubi tubi karna para Bupati KBB menjadi tersangka. Ini menandakan kurangnya syukur atas kepercayaan yang Alloh berikan,” ucapnya.
“Tentu kita wajib sadar diri untuk mengembalikan kepada khitah tujuan awal berdirinya KBB. Dimana pembentukan KBBdemi kesejahteraan masyarakat dan mempercepat proses pembangunan agar sejajar dalam persaingan dengan daerah otonom lainnya,” tukasnya.
Menurutnya, perlu mulai kembali rasa kesatuan dan persatuan antar umat serta kelompok untuk menguatkan pembangunan KBB.
“Pilkada sekalipun harus dipandang sebagai media menguatkan kebersamaan dalam kompetisi yang berakhlaqul karimah bukan saling menjerumuskan, rasa saling memajukan antara kita,” tandasnya.*





