SATUMEDIA.ID– Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkuat sistem peringatan dini tsunami di Indonesia dengan mengoperasikan teknologi High Frequency (HF) Radar Array di Provinsi Sumatera Barat, Jumat (3/7/2026).
Teknologi pemantauan laut tersebut memungkinkan kondisi perairan dipantau secara real time sehingga informasi mengenai arus laut, gelombang, hingga arah angin dapat diperoleh lebih cepat dan akurat.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan, pengoperasian HF Radar Array merupakan bagian dari penguatan sistem observasi laut nasional, terutama di wilayah pesisir barat Sumatera yang berhadapan langsung dengan Samudra Hindia dan memiliki tingkat kerawanan bencana tinggi.
“Kami memasang HF Radar ini di tempat-tempat yang strategis untuk mendapatkan informasi kemaritiman terbaik. Melalui alat canggih ini, BMKG dapat mengamati kondisi laut secara terus-menerus dalam cakupan luas, serta memperoleh data arus laut, gelombang, dan arah angin dengan jauh lebih cepat dan akurat,” kata Faisal dalam siaran pers dikutip, Jumat (10/7/2026).
Menurut Faisal, keberadaan radar tidak hanya mendukung upaya mitigasi bencana, tetapi juga memberikan manfaat bagi sektor kelautan, perikanan, pelayaran, hingga ketahanan pangan nasional.
Ia menjelaskan, HF Radar dipasang di sejumlah titik strategis agar mampu memantau dinamika laut secara berkesinambungan dalam cakupan wilayah yang luas. Data yang dihasilkan dapat dimanfaatkan untuk mendukung sistem peringatan dini maupun aktivitas ekonomi masyarakat pesisir.
Saat ini BMKG telah mengoperasikan empat sistem HF Radar Array dari total 10 unit yang direncanakan dibangun di Indonesia. Di Sumatera Barat, dua unit radar ditempatkan di kawasan Masjid Al-Hakim, Kota Padang, dan Taman Anas Malik, Kota Pariaman, dengan jangkauan pemantauan hingga sekitar 80 kilometer.
“BMKG saat ini tengah mendorong 5 lokasi di Sumbar untuk masuk ke dalam Tsunami Ready Community, sebuah standardisasi komunitas siaga tsunami internasional dari IOC-UNESCO. Hal ini menjadi prioritas karena wilayah pesisir barat Sumatra langsung berhadapan dengan Samudera Hindia dan memiliki kepadatan penduduk yang tinggi,” ujarnya.
Selain membangun infrastruktur, BMKG juga memperkuat kapasitas masyarakat melalui berbagai program edukasi kebencanaan dan iklim. Di Sumatera Barat, lembaga tersebut telah menyelenggarakan 31 Sekolah Lapang Iklim (SLI), 11 Sekolah Lapang Cuaca Nelayan (SLCN), serta enam Sekolah Lapang Gempa Bumi dan Tsunami.
Program-program tersebut ditujukan untuk meningkatkan kemampuan petani dalam menentukan waktu tanam dan memilih varietas tanaman sesuai kondisi iklim, sekaligus membantu nelayan memahami informasi cuaca, arus laut, dan potensi lokasi penangkapan ikan melalui aplikasi Inawis.
BMKG juga tengah mendorong lima kawasan di Sumatera Barat agar memperoleh pengakuan sebagai Tsunami Ready Community, standar internasional dari IOC-UNESCO bagi komunitas yang memiliki kesiapsiagaan menghadapi tsunami.
Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi menilai pengoperasian HF Radar menjadi langkah penting dalam memperkuat sistem pemantauan laut di daerahnya. Menurut dia, teknologi tersebut memungkinkan setiap perubahan kondisi laut terdeteksi lebih cepat sehingga proses mitigasi dapat dilakukan sebelum dampak meluas.
“Sumatra Barat berada di lokasi yang sangat vital dalam sistem pemantauan laut nasional. Ketika terjadi pergerakan mencurigakan di tengah laut sana, HF Radar ini langsung memantau dan mengirimkan informasi cepat ke daratan, sehingga kita bisa memitigasi risiko sejak dini,” papar Mahyeldi.
Ia menambahkan, data yang dihasilkan radar juga dapat dimanfaatkan untuk mendukung produktivitas nelayan melalui informasi arus laut dan perkiraan lokasi berkumpulnya ikan. Dengan demikian, keberadaan teknologi tersebut tidak hanya meningkatkan aspek keselamatan, tetapi juga memberikan nilai tambah bagi perekonomian masyarakat pesisir.
Sementara itu, Wali Kota Pariaman Yota Balad mengatakan wilayahnya memiliki kerentanan tinggi terhadap ancaman tsunami karena sebagian besar kawasan hanya berada pada ketinggian sekitar 13 hingga 15 meter di atas permukaan laut. Karena itu, kehadiran HF Radar dinilai menjadi instrumen penting untuk mempercepat pemantauan kondisi laut sekaligus mendukung keselamatan masyarakat pesisir.
“Pengoperasian teknologi tersebut merupakan wujud sinergi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam memperkuat sistem mitigasi bencana berbasis teknologi,” ujar Yota.
Pembangunan HF Radar Array merupakan bagian dari kerja sama Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Prancis melalui dukungan Agence Française de Développement (AFD) sebagai lembaga pembiayaan serta Collecte Localisation Satellites (CLS) sebagai penyedia teknologi. BMKG menyatakan kolaborasi tersebut menjadi langkah strategis dalam memperkuat sistem observasi laut nasional sekaligus meningkatkan perlindungan masyarakat di wilayah pesisir Indonesia.*





