SATUMEDIA ID – Pemerintah Kota (Pemkot) Cimahi menargetkan Kampung Adat Cireundeu menjadi percontohan pengembangan kampung berbasis ketahanan pangan yang dipadukan dengan konsep pariwisata edukatif. Pengembangan tersebut diharapkan semakin memperkuat posisi Cireundeu sebagai destinasi budaya sekaligus pusat pembelajaran kearifan lokal di Indonesia.
Komitmen itu mengemuka di sela rangkaian syukuran adat Tutup Taun 1959 dan Ngemban Taun 1 Sura 1960 Saka Sunda yang digelar di Kampung Adat Cireundeu, Kelurahan Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan, pada 9–11 Juli 2026.
Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Kepemudaan, dan Olahraga (Disbudparpora) Kota Cimahi, Dani Bastian, mengatakan pemerintah daerah akan terus memperkuat pelestarian budaya yang telah dijaga masyarakat Cireundeu selama puluhan tahun. Menurut dia, nilai budaya yang dipadukan dengan kemandirian pangan menjadi modal utama untuk mengembangkan kawasan tersebut sebagai destinasi wisata edukatif.
“Kampung Adat Cireundeu memiliki keunggulan yang tidak dimiliki banyak daerah lain, yakni keberhasilan masyarakat mempertahankan budaya konsumsi rasi atau beras singkong sebagai pangan pokok alternatif. Tradisi itu bahkan telah diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) Indonesia,” tandas Dani.
Menurutnya, kekuatan utama Cireundeu bukan hanya pada konsistensi masyarakat dalam menjalankan tradisi adat setiap tahun, melainkan juga keberhasilan menjaga sistem pangan lokal yang mandiri, sehat, dan berkelanjutan. Nilai tersebut menjadi alasan rasi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda.
Ia menambahkan, rangkaian syukuran adat tahun ini dihadiri tokoh adat dari berbagai daerah, seperti Banten, Kuningan, dan Cibuluh, serta mendapat dukungan dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Kehadiran berbagai pihak tersebut menunjukkan semakin besarnya perhatian terhadap pelestarian budaya yang berkembang di Kampung Adat Cireundeu.
Selain menjadi destinasi wisata budaya, Kampung Adat Cireundeu juga semakin sering dijadikan lokasi penelitian oleh akademisi dari berbagai perguruan tinggi.
“Kawasan ini dinilai berhasil memperlihatkan bahwa pelestarian tradisi, ketahanan pangan, dan kehidupan masyarakat modern dapat berjalan berdampingan sehingga layak menjadi model pengembangan kampung berbasis budaya bagi daerah lain,” pungkasnya.*




