Disbudparpora Kota Cimahi Perkuat Pengenalan Pangan Lokal Rasi Melalui Pendidikan

Beras singkong alias rasi menjadi makanan pokok masyarakat Kampung Adat Cireundeu.(Istimewa).**

SATUMEDIA.ID – Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Kota Cimahi gencar memperkenalkan sistem pangan lokal kepada siswa di lingkungan sekolah.

Diketahui, Cimahi memiliki pangan lokal khas Kampung Adat Cireundeu, Kelurahan Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan, yaitu beras singkong yang dikenal rasi. Diharapkan pangan lokal itu bisa tersampaikan manfaatnya hingga lingkungan sekolah

“Kami memperkenalkan para siswa dengan pangan lokal sejak dini. Agar mereka tahu, bahwa pangan hasil pertanian lokal, seperti singkong dapat menjadi alternatif di tengah gempuran minuman tinggi gula dan makanan ultra proses di pasaran. Di Cimahi juga ada beras singkong (rasi) yang sudah ditetapkan menjadi warisan budaya tak benda (WBTB) oleh Pemprov Jabar,” tuturnya.

Selain Rasi, Kota Cimahi yang masuk WBTB adalah Acara Seren Taun kampung adat Cirendeu.

Menurutnya, dengan memperkenalkan pangan lokal seperti rasi kepada siswa sejak dini akan membuat mereka terbiasa mengonsumsi pangan lokal dan mendorong diversifikasi pangan untuk mengurangi ketergantungan pada beras.

“Bersama Kementerian Kebudayaan, kami terus menggencarkan penguatan sistem pangan lokal melalui pendidikan. Tujuannya, agar generasi muda memahami tentang pentingnya sistem pangan lokal yang berkelanjutan melalui pendidikan,” ujarnya.

Ia berharap, dengan melibatkan generasi muda, akan membuat sistem pangan lokal dapat terus berkembang dan memberikan manfaat yang optimal bagi masyarakat.

“Kita perkenalkan berbagai jenis pangan lokal, manfaatnya bagi kesehatan, dan peranannya dalam menjaga keberlanjutan lingkungan,” tandasnya.

Selain memberikan dampak bagi kesehatan, dengan diperkenalkannya pangan lokal ini juga secara tidak langsung akan membuat siswa ikut bersama-sama untuk melestarikan rasi.

Diperkirakan, rasi sebagai pangan utama bagi warga Kampung Adat Cireundeu terjadi sejak tahun 1918. Salah satu pencetusnya adalah Aki Ali yang berpikir bahwa sumber pangan warganya yang dijajah harus dipertahankan.

Sementara Kampung Cireundeu berada di daerah perbukitan yang tidak bisa ditanami padi. Dalam kondisi seperti itulah, para sesepuh dan warga Kampung Adat Cireundeu berpikir sudah waktunya untuk beralih dari makanan pokok yang berasal dari beras menjadi makanan yang berasal dari umbi-umbian seperti singkong.

Enam tahun kemudian tepatnya tahun 1924 sesepuh dan warga mengembangkan singkong menjadi sebuah beras.

“Bagaimana pun juga, ini menjadi tugas kita bersama baik pemerintah, masyarakat dan stakeholder lainnya untuk bersama-sama melestarikan rasi yang memiliki sejarah panjang bagi warga Kampung Cireundeu,” pungkasnya.*

Pos terkait