SATUMEDIA.ID – Lahan eks Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Leuwigajah di Kota Cimahi, yang lama terbengkalai akan dihidupkan kembali. Pemerintah Kota Cimahi menyiapkan kawasan tersebut sebagai rimba kota guna menambah ruang terbuka hijau (RTH) yang saat ini masih terbatas.
Pemkot Cimahi telah mengamankan lahan seluas 11 hektare yang merupakan aset pemerintah daerah. Kawasan bekas TPA itu sebelumnya ditinggalkan sejak tragedi longsor pada 2005 yang merenggut lebih dari 100 korban jiwa.
Kepala Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Kota Cimahi Harjono mengatakan, pengamanan lahan dilakukan dengan pemasangan patok dan penegasan batas wilayah aset.
“Untuk lahan milik Pemkot Cimahi ada sekitar 11 hektare. Sisanya merupakan aset milik Pemerintah Provinsi Jawa Barat, Kota Bandung, dan Kabupaten Bandung,” kata Harjono, Rabu (17/12/2025).
Ia menjelaskan, Pemkot Cimahi saat ini tengah memproses kelengkapan dokumen legal berupa sertifikat tanah. Langkah tersebut dilakukan sebagai bentuk pengamanan aset sekaligus upaya mencegah terjadinya penyerobotan lahan.
“Kami targetkan sebelum Februari seluruh dokumen legal formalnya beres. Setelah itu, pengembangan rimba kota bisa segera direalisasikan,” ujarnya.
Di sisi lain, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Cimahi Chanifah Listyarini menuturkan, pemanfaatan eks TPA Leuwigajah sebagai rimba kota sudah diatur dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Cimahi.
“Statusnya jelas, kawasan ini tidak lagi untuk pembuangan sampah. Konsepnya penghijauan atau rimba kota. Saat ini sudah ada lebih dari 1.000 bambu yang ditanam,” kata Chanifah.
Menurut dia, rimba kota tersebut akan berfungsi sebagai kawasan resapan air sekaligus paru-paru kota. Kehadiran tanaman keras, terutama bambu, diharapkan dapat mengurangi risiko banjir dan memperbaiki kualitas lingkungan.
Selain itu, kawasan rimba kota Leuwigajah juga dirancang untuk mendukung wisata budaya Kampung Adat Cireundeu yang berada di sekitarnya. Pemkot Cimahi berharap kawasan hijau ini ke depan juga dapat menjadi habitat alami bagi berbagai jenis fauna.
“Kami berharap kawasan ini tidak hanya hijau, tetapi juga hidup, dengan ekosistem yang terbentuk secara alami,” tutur Chanifah.*





