Tutup Taun Cireundeu Tarik Ribuan Pengunjung, Anton Charliyan Puji Kemandirian Pangan Warga

Ribuan warga Kota Cimahi hingga luar daerah memadati kawasan Kampung Adat Cireundeu, Kelurahan Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan, Sabtu (11/7/2026).(Istimewa).**

SATUMEDIA.ID – Ribuan warga Kota Cimahi hingga luar daerah memadati kawasan Kampung Adat Cireundeu, Kelurahan Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan, Sabtu (11/7/2026).

Mereka datang untuk menyaksikan rangkaian upacara adat dalam peringatan Sukuran Kampung Adat Cireundeu Tutup Taun 1959 dan Ngemban Taun 1 Sura 1960 Saka Sunda yang berlangsung pada 9–11 Juli 2026.

Sejak pukul 06.00 WIB, masyarakat telah memenuhi kawasan kampung adat meski prosesi utama baru dimulai sekitar pukul 08.00 WIB. Selain menjadi ajang pelestarian budaya, kegiatan tersebut juga menarik perhatian wisatawan yang ingin mengenal tradisi serta kuliner khas berbahan dasar singkong yang menjadi identitas masyarakat Cireundeu.

Rangkaian upacara adat itu menjadi simbol pergantian Tahun Dal menuju Tahun Be dalam kalender Sunda. Momentum tersebut sekaligus menegaskan komitmen masyarakat adat Cireundeu dalam mempertahankan kearifan lokal, khususnya pola konsumsi pangan berbasis rasi atau beras singkong yang telah dijalankan secara turun-temurun.

Ketua Umum Majelis Adat Sunda (MASDA) Jawa Barat, Anton Charliyan, mengatakan tradisi yang dijaga masyarakat Cireundeu menunjukkan bahwa kearifan lokal tetap relevan dalam menghadapi berbagai tantangan, termasuk persoalan ketahanan pangan nasional.

“Pola konsumsi berbasis singkong tidak dapat dipandang sebagai simbol keterbelakangan. Sebaliknya, kebiasaan tersebut menunjukkan kemandirian masyarakat dalam memenuhi kebutuhan pangan dengan memanfaatkan potensi lokal yang tersedia,” kata Anton.

Ia menjelaskan, dari sisi produktivitas, tanaman singkong memiliki hasil panen yang lebih tinggi dibandingkan padi. Dalam satu hektare lahan, produksi singkong dapat mencapai sekitar 20 hingga 50 ton per tahun, sedangkan padi rata-rata menghasilkan sekitar 6 hingga 7 ton beras.

Anton juga menilai singkong memiliki nilai ekonomi dan gizi yang baik karena harganya relatif terjangkau, kaya serat, serta rendah kalori. Menurut dia, pola konsumsi tersebut telah memberikan manfaat bagi masyarakat Cireundeu, termasuk dalam menjaga ketahanan pangan dan kesehatan.

Ia menambahkan, masyarakat adat tidak semestinya dipandang sebagai kelompok yang tertinggal. Justru, berbagai nilai yang mereka pertahankan dinilai telah terbukti mampu menjawab tantangan zaman. Anton menyebut banyak warga Cireundeu yang mengenyam pendidikan tinggi dan meraih berbagai prestasi meski sejak kecil terbiasa mengonsumsi pangan berbasis singkong.

“Konsep pemenuhan gizi yang kini didorong pemerintah melalui Program Makan Bergizi Gratis (MBG) memiliki semangat yang sejalan dengan pola konsumsi sehat yang telah lama diterapkan masyarakat Cireundeu,” tuturnya.

Karena itu, ia mendorong agar pola pangan yang diterapkan di Kampung Adat Cireundeu dapat dijadikan salah satu referensi dalam penguatan ketahanan pangan nasional.

“Apabila konsumsi pangan lokal seperti singkong semakin luas diterapkan masyarakat, ketergantungan terhadap beras dapat berkurang sehingga sekaligus memperkuat kemandirian pangan Indonesia,” pungkasnya.*

Pos terkait