Kebakaran di KBB Melonjak Saat Kemarau, Juli Capai 73 Kejadian

Pabrik resleting PT Hero Top Zipper yang berlokasi di Kampung Cikuray RT 04/RW 14, Desa Kertamulya, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat (KBB) ludes terbakar.(Dok.Damkar KBB).**

SATUMEDIA.ID – Jumlah kebakaran di Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat, melonjak tajam selama musim kemarau 2026. Kondisi cuaca yang kering dan embusan angin kencang disebut turut memperbesar risiko kebakaran di sejumlah wilayah.

Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan KBB mencatat terdapat 143 kejadian kebakaran sepanjang Januari hingga awal Agustus 2026.

Lonjakan paling signifikan terjadi pada Juli 2026 dengan 73 kejadian. Bahkan, petugas pemadam kebakaran pernah menangani tujuh peristiwa kebakaran dalam satu hari.

Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan KBB Siti Aminah Anshoriah mengatakan, peningkatan kasus mulai terlihat ketika wilayah Bandung Barat memasuki musim kemarau.

“Pada awal tahun, jumlah kejadian masih relatif terkendali. Namun, memasuki musim kemarau, frekuensinya meningkat cukup tajam,” ujar Siti, Selasa (25/8/2026).

Berdasarkan catatan dinas, terdapat sembilan kejadian kebakaran pada Januari, tujuh kejadian pada Februari, 17 kejadian pada Maret, delapan kejadian pada April, dan sembilan kejadian pada Mei.

Memasuki Juni, jumlahnya naik menjadi 20 kejadian. Angka tersebut kemudian melonjak hampir empat kali lipat pada Juli dengan 73 kasus.

Menurut Siti, kondisi tersebut menjadi peringatan bahwa potensi kebakaran di KBB meningkat selama periode cuaca kering.

“Juli menjadi bulan dengan kasus tertinggi. Dalam satu hari saja kami pernah menerima laporan tujuh kejadian kebakaran,” katanya.

Siti menjelaskan, sebagian besar kebakaran terjadi di lahan kosong dan kawasan perkebunan. Material seperti rumput kering, alang-alang, ranting, serta dedaunan yang mengering menjadi bahan yang mudah terbakar.

Situasi semakin berbahaya ketika angin bertiup kencang. Api yang awalnya kecil dapat dengan cepat menjalar ke area lain, terutama pada siang hingga sore hari.

“Vegetasi yang mengering membuat api lebih mudah menyebar. Ketika ditambah angin kencang, perambatan api menjadi jauh lebih cepat,” ucap Siti.

Ia mengatakan, kebakaran tidak hanya berpotensi menghanguskan lahan. Jika api merambat ke kawasan permukiman, dampaknya dapat menimbulkan kerugian material yang lebih besar hingga mengancam keselamatan warga.

Selain faktor cuaca, Siti menilai kelalaian manusia masih menjadi salah satu penyebab utama kebakaran yang ditangani petugas.

Puntung rokok yang dibuang sembarangan dan sisa pembakaran yang belum benar-benar padam menjadi sejumlah pemicu yang kerap ditemukan di lapangan.

“Di tengah kondisi yang panas dan kering, sumber api yang sangat kecil pun dapat menjadi awal kebakaran. Karena itu, masyarakat perlu memastikan tidak ada bara atau api yang masih menyala sebelum meninggalkan lokasi,” tuturnya.

Menghadapi tingginya risiko kebakaran selama musim kemarau, Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan KBB terus meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat.

Siti mengingatkan warga agar tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran, terutama di sekitar lahan kosong, perkebunan, permukiman, dan tempat pembuangan sampah.

Ia juga meminta masyarakat segera melaporkan apabila menemukan titik api agar petugas dapat melakukan penanganan sedini mungkin.

“Musim kemarau membutuhkan kewaspadaan lebih dari masyarakat. Api bisa muncul di mana saja dan kelalaian kecil dapat berkembang menjadi kebakaran besar,” kata Siti.*

Pos terkait