SATUMEDIA.ID – Penanganan banjir di Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, mulai menunjukkan hasil. Sepanjang 9,5 kilometer sungai dan saluran air telah dinormalisasi dalam kurun waktu sekitar 10 bulan.
Normalisasi tersebut dilakukan Panitia Pentahelix Penanganan Banjir Dayeuhkolot sejak Desember 2025 hingga September 2026. Panitia ini dibentuk pada akhir November 2025 untuk mempercepat penanganan banjir melalui kolaborasi berbagai pihak.
Ketua Pentahelix Dayeuhkolot Tri Rahmanto mengatakan, normalisasi dilakukan secara bertahap dengan melibatkan pemerintah, masyarakat, akademisi, dunia usaha, komunitas, dan media.
Menurut dia, penanganan tidak hanya menyasar Sungai Citarum, tetapi juga sejumlah sungai dan saluran air yang berada di kawasan permukiman.
“Selama 10 bulan, kami sudah melakukan normalisasi sungai dan saluran sepanjang 9,5 kilometer. Sungai di Dayeuhkolot cukup banyak, bukan hanya Citarum,” kata Tri, Senin (5/10/2026).
Dari total 9,5 kilometer tersebut, normalisasi mencakup Sungai Cigede sepanjang 1,238 kilometer, Sungai Cikapundung 920 meter, dan Sungai Cipalasari sepanjang 3,067 kilometer.
Selain itu, Pentahelix Dayeuhkolot bersama masyarakat dan Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam) menormalisasi anak Sungai Cipalasari sepanjang 255 meter.
Normalisasi juga dilakukan terhadap drainase permukiman dan jalan sepanjang 2,320 kilometer serta saluran pembuang sepanjang 1,725 meter.
Tri menjelaskan, pengerjaan dilakukan dengan dua metode. Pada lokasi yang memungkinkan dijangkau alat berat, pengerukan dilakukan menggunakan peralatan mekanis.
Sementara itu, saluran yang sempit dan sulit dijangkau alat berat ditangani secara manual melalui gotong royong masyarakat.
Selain memperlebar dan memperdalam aliran air, Pentahelix Dayeuhkolot juga membangun sejumlah infrastruktur pendukung untuk mengurangi risiko banjir.
Sebanyak 13 unit pintu air telah dipasang. Kemudian, 20 unit pipa duckbill ditempatkan di lima titik yang dinilai rawan banjir.
Tim juga membangun tembok penahan tebing (TPT) sepanjang 630 meter di tujuh lokasi serta memasang geobag sepanjang 66 meter untuk mengantisipasi longsoran.
Upaya mengendalikan sampah di aliran sungai turut dilakukan dengan memasang enam unit jaring penahan sampah di empat lokasi kritis.
“Untuk memperkuat sistem drainase, kami juga membangun U-Ditch dan box culvert sepanjang 72 meter. Ada pula perbaikan serta pengecoran jalan sepanjang 490 meter di delapan titik,” ujar Tri.
Menurut Tri, keberadaan infrastruktur tersebut tidak hanya berkaitan dengan pengendalian banjir, tetapi juga menjaga mobilitas warga ketika terjadi hujan deras maupun genangan.
Untuk menghadapi kondisi darurat, Pentahelix Dayeuhkolot juga menyiagakan empat unit pompa air di sejumlah titik rawan banjir.
Dua unit pompa tambahan disiapkan sebagai cadangan yang dapat dikerahkan ketika terjadi kondisi darurat.
Tri mengatakan, capaian normalisasi 9,5 kilometer tersebut menjadi bagian dari upaya penanganan banjir yang dilakukan secara terpadu.
Dia menilai, keterlibatan banyak unsur membuat pekerjaan yang sebelumnya sulit ditangani dapat dilakukan secara bertahap.
“Kami berharap ke depan seluruh elemen masyarakat semakin kompak. Penanganan banjir bukan hanya tugas pemerintah atau Pentahelix, tetapi menjadi tanggung jawab bersama, termasuk masyarakat,” kata Tri.
Ia berharap kolaborasi tersebut dapat terus berjalan sehingga penanganan banjir di Dayeuhkolot tidak berhenti pada normalisasi sungai dan saluran air, tetapi berlanjut pada upaya pencegahan secara berkelanjutan.*





