SATUMEDIA.ID – Keterbatasan anggaran tak menyurutkan langkah Pentahelix Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, untuk mengantisipasi banjir.
Alih-alih menunggu dukungan anggaran, Pentahelix Dayeuhkolot mengandalkan kolaborasi dengan pemerintah kecamatan, relawan, tokoh agama, dan masyarakat untuk membersihkan saluran air di titik rawan banjir.
Kegiatan tersebut dilakukan di RW 16, Desa Citeureup, Kecamatan Dayeuhkolot, Rabu (7/10/2026).
Puluhan warga bersama Pemerintah Kecamatan Dayeuhkolot, MUI Desa Citeureup, Relawan Prima, dan Pentahelix Dayeuhkolot turun langsung membersihkan saluran air dari sampah, rumput liar, serta endapan lumpur.
Ketua Pentahelix Dayeuhkolot Tri Rahmanto mengatakan, kegiatan tersebut merupakan langkah antisipasi menghadapi potensi banjir saat hujan dengan intensitas tinggi.
“Walaupun tidak ada anggaran, kami tidak ingin hanya menunggu. Pencegahan banjir tetap harus dilakukan dengan apa yang bisa kami kerjakan bersama,” kata Tri saat dikonfirmasi, Kamis (8/10/2026).
Menurut dia, persoalan banjir di Dayeuhkolot membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri tanpa dukungan masyarakat dan unsur lainnya.
“Penanganan banjir tidak bisa dilakukan sendirian. Kekuatan Pentahelix yang digagas Bupati Bandung Dadang Supriatna adalah bagaimana semua unsur bergerak dan berbagi peran,” ujarnya.
Tri menilai keterlibatan warga RW 16 dalam kegiatan tersebut menjadi sinyal positif. Masyarakat tidak hanya menjadi pihak yang terdampak ketika banjir terjadi, tetapi ikut mengambil peran dalam mencegahnya.
Ia mengatakan, saluran air di RW 16 perlu dinormalisasi karena wilayah tersebut termasuk kawasan yang kerap menghadapi banjir ketika curah hujan tinggi.
“Kalau saluran tersumbat, air tentu tidak akan mengalir dengan baik. Karena itu, sebelum hujan besar datang, kami berusaha membersihkannya terlebih dahulu,” kata dia.
Di lapangan, warga terlihat bergotong royong mengangkat sampah dan endapan lumpur dari saluran air. Rumput liar yang menutupi sejumlah bagian saluran juga dibersihkan.
Tri berharap kegiatan tersebut tidak berhenti pada satu lokasi. Pentahelix Dayeuhkolot akan menjadwalkan kegiatan serupa di sejumlah titik yang dinilai rawan banjir.
“Kami akan terus bergerak ke titik-titik lain. Tidak harus menunggu ada anggaran untuk melakukan sesuatu yang memang bisa kita kerjakan bersama,” tuturnya.
Namun, Tri mengingatkan bahwa normalisasi saluran tidak akan efektif jika kebiasaan membuang sampah sembarangan masih terjadi.
Karena itu, ia meminta warga ikut menjaga saluran air yang telah dibersihkan agar kembali tidak tersumbat.
“Yang paling penting setelah dibersihkan adalah menjaganya. Jangan sampai sampah kembali masuk ke selokan atau sungai,” katanya.
Tri berharap gerakan gotong royong tersebut dapat menjadi contoh bagi wilayah lain di Dayeuhkolot.
“Semoga ini menjadi virus positif. Kalau masyarakat di setiap wilayah mau bergerak bersama, upaya mengurangi risiko banjir akan jauh lebih kuat,” pungkasnya.*





