Langit Malam Lembang Tak Lagi Bersahabat dengan Observatorium Bosscha

Kondisi langit malam di Lembang, Kabupaten Bandung Barat yang terang benderang. Hal ini menyebabkan kelumpuhan pada pengamatan astronomi di Observatorium Bosscha.(Instagram Observatorium Bosscha)**

SATUMEDIA.ID – Tingkat polusi cahaya di sekitar Observatorium Bosscha, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB) kian hari semakin mengkhawatirkan. Dampak yang paling terasa ketika para astronom hendak melaksanakan penelitian astronomi.

Terkini, pengamatan bintang di Observatorium Bosscha lumpuh akibat
lampu sorot dari salah satu pusat hiburan masyarakat di kawasan Lembang.

Demikian postingan pada 14 Juli 2024 di Instagram Observatorium Bosscha. Disebutkan, lampu sorot mengkontaminasi tangkapan instrumen pengamatan, mengakibatkan hampir keselurahan data pengamatan yang diambil dari teleskop tidak bisa digunakan.

Polusi cahaya sebenarnya bukan saja ancaman bagi astronomi. Polusi cahaya adalah “bencana” yang tidak kita sadari.

Sebenarnya, persoalan polusi cahaya bukan hanya terjadi sekarang. Tapi sudah dikeluhkan oleh para astronom di Observatorium Bosscha sejak beberapa tahun lalu.

Polusi cahaya menjadi masalah serius yang dihadapi oleh Observatorium Bosscha saat ini. Sempat memunculkan kabar simpang siur bahwa Observatorium Bosscha akan dipindahkan ke Nusa Tenggara Timur.

Mochamad Irfan salah seorang astronom dari Observatorium Bosscha dalam kesempatan wawancara beberapa tahun lalu mengatakan, alasan dipilihnya Lembang sebagai tempat pembangunan Observatorium pada tahun 1923 karena kualitas langitnya yang ideal untuk pengamatan benda langit, serta jauh dari polusi cahaya.

Akan tetapi sejak tahun 1990-an laju pertumbuhan penduduk di Kota Lembang dan Bandung sangat cepat berakibat meningkatnya penggunaan lampu.

Semakin banyaknya pencahayaan semakin meningkat pula polusi cahaya yang dihasilkan. Kawasan wisata pun semakin merapat ke Observatorium Bosscha.

“Hal ini membuat objek-objek langit malam seperti bintang-bintang dan planet semakin sulit untuk dilihat, tidak hanya oleh astronom tapi juga oleh masyarakat di Lembang dan umumnya Bandung. Jika polusi ini terus meningkat pada tahun-tahun mendatang, maka keektifan berbagai riset di Observatorium Bosscha sudah pasti akan menurun secara drastis,” papar Irfan ketika itu.

Rekaman kondisi langit di atas Lembang telah diperoleh oleh para astronom di Observatorium Bosscha sejak didirikan tahun 1923. Penelitian mengenai kualitas langit di Bosscha pernah dilakukan oleh Fachrudin seorang peneliti pada  tahun 2011.

“Dia menyatakan bahwa kecermelangan langit di Observatorium Bosscha pada tahun 2011 sebesar 16 magnitudo per detik busur kuadrat pada daerah panjang gelombang visual. Ini adalah kualitas langit yang sudah dalam tahap amat mengkhawatirkan untuk sebuah penelitian astronomi,” ujarnya.

Dengan kondisi langit seperti itu,  menurut Irfan, Observatorium Bosscha hanya bisa mengamati bintang-bintang yang terang saja. Sedangkan bintang-bintang yang rredup, yang jumlahnya jauh lebih banyak, amat sangat sulit diamati.

“Langit Lembang sudah 100 kali lebih terang bila dibandingkan langit gelap  tanpa pengaruh polusi cahaya,” imbuhnya.

Menurutnya, polusi cahaya juga mempengaruhi siklus hidup hewan. Cahaya yang snagat terang dari perkotaan membuat hewan noktural atau hewan yang beraktivitas di malam hari dan tidur di siang hari seperti kelelawar maupun burung hantu mengalami pengurangan waktu berkegiatan di malam hari.

“Kita sangat mahfum bila kebanyakan masyarakat tidak tahu tentang polusi cahaya dan cara menanggulanginya. Bahkan tidak sedikit masyarakat yang baru mengenal istilah polusi cahaya. Jadi perlu ada upaya terus menerus untuk memberikan penjelasan kepada publik dan warga sekitar. Komunikasi kepada publik bisa melalui leaflet, media massa, kunjungan ke sekolah,  dan sebagainya,” tuturnya*

Pos terkait