SATUMEDIA.ID – Tuberkulosis atau TB menjadi salah satu penyakit paling mematikan di dunia. Dalam 200 tahun terakhir sekitar satu miliar orang diperkirakan meninggal akibat tuberkulosis.
Menurut Wakil Menteri Kesehatan Profesor Dante Saksono Harbuwono, angka tersebut lebih besar daripada seluruh pandemi yang pernah ada.
“Bayangkan satu miliar orang meninggal karena TB. Ini lebih banyak dari seluruh pandemi yang pernah ada di seluruh dunia. Sehingga, saya sering menyebut TB ini sebagai silence pandemic,” ujar Wamenkes Prof. Dante dikutip dari laman Kemenkes RI, Jumat (23/8/2024).
Dante menjelaskan, meskipun bakteri penyebab tuberkulosis baru ditemukan pada 1882 oleh Robert Koch, penyakit ini sebenarnya sudah ada sejak ribuan tahun yang lalu, bahkan sejak zaman firaun.
“Tuberkulosis ini merupakan penyakit kuno dan sudah ditemukan sejak ribuan tahun yang lalu ketika zaman firaun,” ujarnya.
Berdasarkan data Global Tuberculosis Report tahun 2023, Indonesia menempati peringkat kedua tertinggi di dunia, setelah India, untuk negara dengan estimasi kasus dan kematian akibat tuberkulosis. Indonesia menyumbang sekitar 10% penderita tuberkulosis di seluruh dunia, dengan angka penderita sekitar 1.060.000 dari 10.600.000 kasus tuberkulosis di seluruh dunia pada 2022.
Untuk menurunkan angka tersebut, Dante menegaskan pentingnya komitmen bersama dalam kasus tuberkulosis di Indonesia. Komitmen pemerintah terkait kasus tuberkulosis telah ditetapkan dalam Peraturan Presiden Nomor 67 Tahun 2021 tentang Penanggulangan Tuberkulosis.
Ia juga menegaskan, komitmen program penanggulangan tuberkulosis juga tercantum dalam target RPJMN 2025-2029, yang menjadi wadah akuntabilitas upaya penanggulangan tuberkulosis di Indonesia.
Menghadapi tingginya kasus tuberculosis di Indonesia, telah dilaksanakan
Pertemuan Tingkat Tinggi DPR RI untuk Eliminasi TB dan Pembentukan Kaukus TB DPR RI yang berlangsung di Gedung Nusantara, DPR RI Jakarta (19/8/2024).
Forum ini merupakan pertemuan antara DPR RI dan pemerintah untuk merencanakan strategi, kebijakan, atau program terkait tuberkulosis.
Menurut Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Melkiades Laka Lena, pembentukan Kaukus TB DPR RI merupakan bentuk dukungan DPR RI terhadap upaya eliminasi TB di Indonesia pada 2030 mendatang.
“Acara ini merupakan rangkaian penting dalam upaya kita mendukung eliminasi TB di Indonesia pada tahun 2030. Sebuah tujuan ambisius yang membutuhkan komitmen dan kerja keras dari semua pihak,” ujar Melkiades Laka Lena.
Kegiatan Kaukus TB ini juga melibatkan Kementerian Dalam Negeri sebagai penyelenggara tenaga administrasi perangkat daerah, baik di tingkat provinsi, kota, maupun kabupaten.
Dengan keterlibatan Kemendagri, diharapkan sosialisasi eliminasi tuberkulosis yang tertuang dalam RPJMN 2025-2029 mendapatkan dukungan koordinasi dan kontribusi seluruh perangkat daerah.
“Dengan adanya kaukus ini diselenggarakan, kita semua dapat memperkuat koordinasi dan kolaborasi lokal, mempercepat eliminasi TB di tingkat nasional, dan memastikan setiap daerah berkontribusi dalam upaya eliminasi TB setanah air,” kata Melki.*


