Arsan Latif Mengajak ASN KBB dan Petani Memanfaatkan Pupuk Organik Kotoran Sapi untuk Tanaman

Pj Bupati Bandung Barat Arsan Latif Arsan di acara Rapat Anggota Tahunan KUD Puspa Mekar, Kecamatan Parongpong, Sabtu (20/4/2024)/Dokumen Diskominfotik KBB.

SATUMEDIA – Kotoran hewan (kohe) dari sapi milik peternak di kawasan Lembang dan sekitarnya, Kabupaten Bandung Barat (KBB) hingga kini belum tertangani secara tuntas. Menjadi penyebab pencemaran lingkungan yang mengalir ke Sungai Cikapundung.

Berbagai upaya sudah dilakukan pemerintah agar kohe tidak langsung dibuang ke sungai. Salah satunya dengan program biogas dan pupuk organik.

Penjabat Bupati Bandung Barat, Arsan Latif mengatakan, untuk menghasilkan ternak sapi yang berkualitas tinggi, maka harus digunakan straw yang berkualitas pula. Peternak harus berupaya menjaga lingkungan di sekitar kandang sapi, salah satunya dengan membuat biogas, agar limbah kotoran sapi tidak dibuang dimana saja dan dapat bermanfaat.

“Kami mengimbau kepada peternak untuk dapat mengelola kotoran hewan dalam wadah komunitas dan dapat menjualnya melalui Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). Saya akan mengajak para petani dan PNS KBB untuk menggunakan pupuk organik dan produksi lokal dengan membelinya di UMKM,” kata Arsan Latif di
acara Rapat Anggota Tahunan KUD Puspa Mekar, Kecamatan Parongpong, Sabtu (20/4/2024).

Menurutnya, perlu menggandeng industri persusuan di Bandung Barat seperti Ultrajaya untuk menyerap hasil produksi susu peternak dengan harga bersaing dan kualitas susu yang memenuhi standar yang ditetapkan.

Dikatakannya, produksi susu di KBB memegang peranan penting baik secara nasional maupun regional Jawa Barat. Populasi sapi perah di Bandung Barat saat ini sekitar 25.000 ekor, adalah peternak di wilayah utara Kabupaten Bandung Barat.

Sementara itu, jumlah anggota KUD Puspa Mekar adalah 488 orang dengan populasi sapi perah milik anggota KUD Puspa Mekar 2.110 ekor (laktasi 1.111 ekor). KUD Puspa Mekar menghasilkan susu rata-rata sebanyak 11.500 liter/hari.

KUD Puspa Mekar adalah koperasi yang bergerak secara umum di bidang peternakan khususnya sapi perah, keberadaan koperasi ini Sangat memberikan kontribusi dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Bandung Barat

“Dengan demikian, peternak di KUD harus memperhatikan kualitas susu yang dihasilkan, terutama dalam masalah rantai dingin untuk memperlambat pertumbuhan bakteri. Susu hasil pemerahan wajib ditampung dan disimpan di dalam ember, milk can atau celup puting,” tuturnya.

Saat ini, permasalahan yang dihadapi para peternak, adalah skala kepemilikan yang masih kecil, rendahnya pengetahuan peternak, rendahnya pendapatan dan tingginya kasus penyakit khususnya wabah PMK (Penyakit Mulut dan Kuku) dan LSD (Lumpy Skin Disease).

“Guna mengatasi permasalahan tersebut diperlukan adanya perubahan pendekatan, dari pengobatan menjadi bentuk pencegahan dan dari pelayanan individu, menjadi bentuk pelayanan kelompok atau kelembagaan yang kuat dalam hal ini Koperasi memegang peranan yang sangat penting,” tuturnya.

Sebagaimana dimaklumi, bahwa keberhasilan usaha peternakan sapi perah, sangat tergantung dari keterpaduan langkah, terutama di bidang pembibitan (breeding), pakan, (feeding) dan tata laksana (management).

“Ketiga bidang tersebut, ke depan, secara bertahap harus kita benahi,” tandasnya.*

Pos terkait