Korban Kasus KDRT di Kota Cimahi Juga Menimpa Suami

Foto ilustrasi pengeroyokan (Pixabay).**

SATUMEDIA.ID – Korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) di Kota Cimahi sepanjang 2024 tak hanya dialami istri atau perempuan, namun juga menimpa suami yang mendapat kekerasan dari istrinya.

“Ada seorang suami yang menjadi korban KDRT oleh isrinya. Hal itu dikarenakan faktor ekonomi, dimana suaminya seorang pengangguran sementara istrinya memiliki pekerjaan,” kata Analis Pemberdayaan Perempuan dan Anak pada Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Cimahi, Kusnia Rustiani saat dikonfirmasi, Rabu (19/2/2025).

Lebih jauh diungkapkannya, sepanjang tahun 2024 terjadi 54 kasus kekerasan pada anak dan perempuan di Kota Cimahi. Paling banyak yyy 25 kasus dialami anak-anak, 28 kasus dialami perempuan dan 1 kasus tindak pidana perdagangan orang (TPPO).

Berdasarkan data Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Cimahi, jenis kekerasan itu di antaranya kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) ada 17 kasus, kekerasan seksual ada 13 kasus, penelantaran ada 4 kasus, trafficking ada 1 kasus, kekerasan fisik ada 2 kasus, dan lain-lain seperti LGBT, ITE dan penipuan ada 17 kasus.

“Yang kami tangani sepanjang tahun 2024 itu totalnya ada 54 kasus kekerasan baik kepada anak maupun perempuan,” sebutnya.

Ia menyebut, kasus kekerasan yang terjDi di tahun 2024 itu mengalami penurunan dibandingkan tahun 2023. Dimana tahun sebelumnya ada 63 kasus yang terlaporkan. Rinciannya sebanyak 28 kasus dialami anak-anak, 33 kasus dialami perempuan, 1 kasus kekerasan dialami suami dan 1 kasus TPPO.

Untuk jenis kekerasannya ada 12 kasus KDRT, ada 28 kasus kekerasan seksual, 8 kasus penelantaran, trafficking 1 kasus, kekerasan fisik 7 kasus, dan lain-lain seperti LGBT, ITE dan penipuan ada 7 kasus.

Meski yang terlaporkan menurun, namun pihaknya menyoroti kasus pelecehan seksual yang marak terjadi di lingkungan sekolah.

Menurutnya, dalam dua tahun terakhir ini pihaknya banyak menerima laporan kasus pelecehan terhadap anak di lingkungan sekolah.

“Sebenarnya bukan fenomena baru tapi 2023 dan 2024 banyak muncul korban di sekolah, mayoritas pelecehan seksual. Kebetulan SD dan SMP juga banyak,” ucap dia.

Ia menyebut salah satu pemicu yang membuat banyaknya kasus pelecehan seksual di lingkungan sekolah dikarenakan akses ke media sosial (medsos) yang semakin mudah. Apalagi di kalangan anak-anak.

“Mungkin akibat dampak dari media sosial, misalnya dia melihat tontonan yang bukan seharusnya sehingga memicu. Selain ada faktor-faktor lainnya,” sebutnya.*

Pos terkait