Jejak Digital Dedi Mulyadi

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi.(Dok.Instagram KDM).**

SATUMEDIA.ID – Mengamati sepak terjang Dedi Mulyadi yang akrab dipanggil Kang Dedi Mulyadi (KDM) sejak resmi menjabat Gubernur Jawa Barat periode 2025-2030 sampai saat ini tidak ada kata yang pas kecuali luar biasa. Kenapa luar biasa ?

Gebrakan demi gebrakan “Bapak Aing” ini, diawal kerjanya mulai dari pembongkaran bangunan ilegal di Puncak, pembongkaran bangunan liar di sepanjang kali Gabus- Perum Jasa Tirta (PJT) II , normalisasi Kalimalang di Kecamatan Cikarang Selatan, Kabupaten Bekasi. Normalisasi dilaksanakan mulai dari Jembatan Cibatu hingga ke arah hilir di Desa Pasirsari, dengan panjang mencapai 800 meter.

Gebrakan lain pemutihan pajak kendaraan bermotor, dan terakhir yang tidak luput dari pemberitaan media massa dan medsos adalah penertiban pedagang dan bangunan liar di sepanjang jalan Pasteur Bandung.

Selanjutnya walau pro dan kontra , anak sekolah yang bermasalah masuk barak militer. Hasilnya ada perubahan kentara terlihat anak mulai disiplin, menghormati orang tua, disiplin akan waktu dan melupakan begadang, tawuran, bolos sekolah dan lainnya.

Kinerja KDM dalam 100 hari ini gaungnya sudah nasional. Beberapa Gubernur bahkan mengikuti langkah KDM misalnya dalam hal pemutihan pajak kendaraan bermotor.

Baru-baru ini Indikator Politik Indonesia mengadakan survei kepuasan warga terhadap kinerja Gubernur se pulau Jawa/Indonesia dan hasilnya KDM dengan skor 94,8 % menduduki teratas.

Namun hasil itu berbanding terbalik dengan kepuasan warga terhadap Pemprov Jabar hanya 50%. Ada baiknya bandingkan dengan visi pasangan KDM dengan Erwan pada awal kampanye dulu. Visinya Jabar istimewa menjadikan daerah termaju, berdaya saing global, dan berkelanjutan melalui transformasi sosial.

Kepopuleran KDM mendapat berbagai julukan. Saat kebijakannya kerap disorot dan jadi perbincangan hangat di sosial media, KDM sempat viral mendapat julukan gubernur Konten. Mengacu pada sepak terjang KDM pada media sosial. Alhasil julukan gubernur Konten menyiratkan nyaris semua aktifitas KDM muncul di media sosial.

Julukan tersebut didapatkannya dari Gubernur Kalimantan Timur, Rudy Masud saat menghadiri rapat antar gubernur bersama Komisi II DPR di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta. KDM tak mempermasalahkan sebutan tersebut karena ia mengklaim justru mendapatkan kebermanfaatan dari konten-konten yang dibuatnya.

KDM menikmati hasil sebagai Gubernur konten yakni pendapatannya berasal dari Youtube dibagikan kepada warga dalam berbagai kesempatan. Data dari situs analitik YouTube memperkirakan KDM Channel menghasilkan uang dalam rata-rata USD 40.000 jika dikonversi berarti sekitar Rp 671 juta per bulan.

Majalah Tempo malah menghitung DM mendapat rata-rata perhari Rp 30 juta dan pendapatan itu tergantung pada engagement ( interaksi antara merek dengan konsumen), CPM( Cost Per Mille, yang berarti biaya yang dikenakan untuk setiap 1.000 tayangan iklan) , monetisasi (tindakan mengubah sesuatu menjadi uang) dan lainnya.Keseharian DM dalam pembuatan konten dilengkapi dua team meliputi kameraman dan pencatat kegiatan.

Julukan kedua yakni sebagai Raja Sunda. Jauh sebelum mencuat dijuluki Gubernur Konten, KDM juga sering mendapat julukan Raja Sunda. Perlu diketahui julukan tersebut bukan gelar resmi melainkan popularitasnya di kalangan masyarakat Sunda.

Sejak terjun di politik saat menjadi Bupati Purwakarta hingga anggota DPR RI, KDM dikenal dengan pembawaannya yang khas.Ia pun dikenal aktif berbicara tentang kebanggaan Sunda dan budaya Sunda.

Singkatnya, KDM disebut “Raja Sunda” karena dari berbagai faktor.Seperti pengaruh politiknya, kepeduliannya terhadap masyarakat, ketertarikannya pada budaya dan sejarah Sunda, karakternya, dan gaya berpidatonya yang khas.

Namun, kini julukan Raja Sunda tersebut kerap dikaitkan dengan isu politik yang disamakan dengan eksistensi Raja Jawa yang sebelumnya disematkan untuk Presiden RI ke-7 Jokowi. Julukan ketiga yakni Mulyono Jilid II. Bersinggungan dengan julukan Raja Sunda, belakangan ini KDM juga mendapat julukan Mulyono Jilid II.

Sebagai informasi julukan Mulyono Jilid II tersebut terkait gaya kepemimpinan KDM yang dinilai memiliki kesamaan dengan era Jokowi saat menjadi kepala daerah. Kala itu, Jokowi dikenal sebagai kepala daerah yang lebih merakyat, turun ke got hingga sungai.

Gaya kepemimpinan Jokowi tersebut dinilai sebagian publik memiliki kesamaan dengan gaya KDM saat ini yang sering terjun langsung ke masyarakat.Terutama, kesamaan gayanya dengan Jokowi itu disorot saat KDM sempat viral mengatasi sampah di Sungai Citarum beberapa waktu lalu.Tak ayal, julukan tersebut pun akhirnya muncul dari sejumlah komentar di sosial media yang diduga berasal dari haters KDM.

Selain dijuluki Gubernur Konten, terbaru DM juga mendapat julukan Gubernur Lambe Turah (Secara harfiah, lambe turah berarti “bibir yang berlebihan”, tetapi makna yang berkembang di masyarakat adalah seseorang yang terlalu banyak bicara).

Julukan tersebut diungkap Andi Muawiyah Ramly anggota DPR RI Komisi X dari Fraksi PKB.Saat itu, Andi blak-blakan menyebut KDM sebagai ‘Gubernur Lambe Turah’ ketika rapat dengar pendapat bersama KORMI (Komite Olahraga Masyarakat Indonesia).

Andi mengkritik KDM yang tidak mengirimkan utusan dari Kormi Jawa Barat untuk hadir dalam acara Festival Olahraga Nasional (Fornas) yang digelar setiap dua tahun oleh Kormi. Pada tahun ini, Kormi akan menyelenggarakan Fornas yang ke-delapan di Nusa Tenggara Barat (NTB).
Sama halnya dengan sebutan Gubernur Konten, Gubernur Jawa Barat KDM juga disebut Gubernur Pencitraan.

Julukan tersebut kerap kali muncul dari komentar sejumlah warganet di sosial media yang kerap mengkritik kebijakan DM. Hal itu lantaran DM kerap membagikan kegiatannya yang terjun langsung ke masyarakat di sosial medianya dengan menyajikan konten hingga menuai respons positif dari pendukungnya.

Sejak dulu memang KDM dikenal karena komitmennya terhadap masyarakat, terutama dalam membantu mereka yang kurang mampu. Sejak menjabat DPRD Purwakarta, Wakil Bupati, Bupati hingga DPR RI, ia menjalankan berbagai program sosial untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat, baik dari anggaran pemerintah maupun dari uang pribadi.

KDM juga sering terlibat langsung dalam membantu masyarakat miskin, memberikan bantuan finansial maupun material. Ia dikenal karena sering turun ke lapangan, mendengarkan keluhan warga, dan memberikan solusi praktis.

Bila mengikuti jejak pengalaman KDM yang lahir 11 April 1971 adalah seorang aktivis dan politikus. KDM merupakan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah pemilihan Jawa Barat VII dan duduk di Komisi VI dari 2019 hingga 2023.

Sebelumnya, KDM menjabat sebagai Bupati Purwakarta selama dua periode berturut-turut dari 2008 sampai 2018. Pada saat Pilgub Jabar 2024 KDM yang sudah pindah partai ke Gerindra dicalonkan menjadi calon gubernur yang diusung oleh Koalisi Indonesia Maju dimana dalam koalisi tersebut terdapat Partai Golkar, partainya terdahulu. KDM berpasangan dengan Erwan Setiawan.

Di tahun 2025 pada tanggal 20 Februari, Dedi-Erwan resmi menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi Jawa Barat.Terpilihnya KDM sebagai Gubernur Jawa Barat dengan perolehan suara 60% dalam pilkada langsung, mencatat sejarah baru dalam perjalanan demokrasi provinsi ini.

Tingginya kepercayaan masyarakat terhadap kepemimpinannya tidak terlepas dari visi besar yang ia tawarkan: mengembalikan jati diri Sunda, yang selaras dengan nilai-nilai syariat Islam sebagai agama yang rahmatan lil alamin.

KDM bukan hanya seorang pemimpin administratif, tetapi juga seorang pendidik masyarakat yang berusaha mengembalikan Islam sebagai poros utama kehidupan Sunda. Upayanya mencerminkan komitmen untuk menjadikan Islam lebih dari sekadar simbol, tetapi sebagai esensi kehidupan yang menyatu dengan identitas budaya. KDM telah membuka jalan ini melalui kebijakan dan visinya.

Bekerja bersama KDM membangkitkan kembali kejayaan dan jati Sunda dengan nilai-nilai spiritual yang agamis dengan tulus dan ikhlas, dan tidak fanatik buta. KDM yang makin populer di media sosial dengan aksi blusukan dan kebijakan kontroversial jadi perbincangan hangat di kalangan warganet.

Peningkatan kepopuleran KDM setidaknya terekam dari kinerja akun @KANGDEDIMULYADICHANNEL. Channel Youtube politikus Gerindra itu kini punya sekitar 7,55 juta pengikut. Maret 2025 lalu, subscriber akun itu baru kisaran 6,3 juta orang.

KDM tampaknya sedang memperkuat modal sosial-politiknya dengan memoles citra di media sosial. Jika tren ini bertahan, bukan tidak mungkin nama KDM di jajaran kandidat Pilpres 2029.

Meski begitu, KDM masih punya banyak ganjalan. Salah satunya ialah terkait isu-isu sosial dan kebijakan publik yang selama ini ia jual di media sosial masih bersifat lokal. KDM ditantang mengubah narasi lokal menjadi isu nasional. Sejauh ini, narasi yang DM mainkan di YouTube itu isu lokal, bukan nasional.

Ganjalan lainnya, statusnya sebagai politikus Gerindra. Belum lama ini, Kongres Gerindra sudah menyepakati bakal kembali mengusung Prabowo Subianto sebagai calon presiden di Pilpres 2029.Mungkin sebagai cawapres Prabowo. Ada adagium bahwa dalam politik  popularitas yang tinggi belum jadi jaminan bagi KDM untuk bisa melaju ke pentas nasional. Dalam kontestasi pilpres, popularitas kerap harus diimbangi dengan tingginya tingkat elektabilitas dan aksesibilitas.  Mari kita tunggu kiprah KDM – Bapak Aing tahun 2029 nanti.*

*Penulis Dede Supriatna alumni Tahassush Kulliyatil Muballighin Assyakur Angkatan 31/2023 dan lulusan Magister Ekonomi Pembangunan FEB UGM

Pos terkait