SATUMEDIA.ID – Di bawah kaki warga Bandung, tersimpan bom waktu yang kapan saja bisa meledak, Sesar Lembang. Patahan sepanjang hampir 30 kilometer ini berpotensi memicu gempa besar yang mampu meluluhlantakkan kota. Pertanyaannya, apakah kita sudah benar-benar siap?
Bandung memang memesona dengan alam indah dan kreativitas warganya. Namun, di balik semua itu ada ancaman senyap yang jarang dibicarakan serius. Para ahli geologi berulang kali memperingatkan, Sesar Lembang aktif dan sewaktu-waktu dapat memicu gempa dengan magnitudo lebih dari 6 bahkan bisa mencapai 7.
Dampaknya bagi Bandung Raya—dengan lebih dari 9 juta penduduk—bisa sangat dahsyat. Infrastruktur vital seperti kampus, industri, hingga fasilitas pemerintahan terancam lumpuh. Korban jiwa bisa tak terhitung, dan kerugian sosial-ekonomi akan berlangsung panjang.
Sayangnya, isu ini sering dipandang sebelah mata. Banyak warga menganggapnya sekadar cerita ilmuwan, jauh dari kenyataan sehari-hari. Pemerintah daerah pun lebih sibuk dengan urusan jangka pendek, mulai dari pembangunan fisik hingga politik elektoral. Akibatnya, mitigasi bencana belum menjadi prioritas. Banyak bangunan masih didirikan tanpa memperhatikan standar tahan gempa. Sosialisasi kebencanaan pun lebih sering berhenti pada seminar, bukan pada praktik nyata di sekolah atau lingkungan warga.
Padahal, kita tidak bisa mencegah gempa. Yang bisa dilakukan hanyalah mengurangi risikonya. Karena itu, beberapa langkah mendesak harus segera ditempuh. Pertama, pemerintah daerah perlu menjadikan Sesar Lembang sebagai isu strategis.
Aturan pembangunan tahan gempa harus diperketat, terutama di kawasan padat penduduk. Kedua, masyarakat perlu dilibatkan aktif. Simulasi kebencanaan di sekolah, kantor, dan ruang publik sebaiknya menjadi rutinitas, bukan seremoni tahunan.
Ketiga, media dan komunitas harus gencar menyebarkan informasi berbasis sains agar literasi kebencanaan meningkat. Keempat, dibutuhkan kolaborasi lintas pihak—akademisi, pemerintah, LSM, hingga warga—karena mitigasi bencana tidak bisa dikerjakan sendirian.
Kita memang tidak tahu kapan bumi akan berguncang. Namun, kita bisa memilih: apakah akan menjadi korban pasif atau warga yang tangguh. Bandung tidak boleh menunggu tragedi baru bergerak. Peringatan ilmuwan tentang Sesar Lembang adalah alarm yang seharusnya menyadarkan kita semua.
Keindahan Bandung tidak boleh membuat kita lalai. Ancaman gempa dari Sesar Lembang nyata adanya. Dengan persiapan kolektif, kita bisa memastikan Bandung tetap berdiri kokoh—bukan runtuh oleh kelalaian kita sendiri.
Bandung kreatif harus juga Bandung siaga.*
Penulis Asep Wahyu FS tinggal di Pasirjambu, Kabupaten Bandung





