SATUMEDIA.ID – Menurut istilah salat adalah suatu perbuatan serta perkataan yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam. Salat adalah bentuk ibadah yang memiliki posisi penting dalam Islam.
Salat menjadi sarana utama seorang hamba dalam menjalin hubungan dengan Allah SWT. Secara terminologi maupun syar’i, salat memiliki karakteristik fungsi spiritual yang mendalam dan menjadi sarana komunikasi utama seorang hamba kepada Tuhannya.
Salat memiliki struktur yang baku, diwajibkan lima waktu sehari semalam, dan merupakan rukun Islam yang tidak boleh ditinggalkan. Salat memiliki nilai ketundukan, keikhlasan, dan harapan kepada Allah SWT sebagai Rabb yang Maha Mendengar dan Maha Pengabul.
Pada intinya, salat adalah doa. Namun di situlah Allah SWT bekerja. Sebab, sejatinya Allah SWT sedang melebihkan rahmat-Nya. Sesuai firman Allah SWT, “Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu ( Al Baqarah : 45).
Selanjutnya dalam surat Ibrahim ayat 31, Allah SWT berfirman : Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku yang telah beriman: “Hendaklah mereka mendirikan shalat, menafkahkan sebahagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka secara sembunyi ataupun terang-terangan sebelum datang hari (kiamat) yang pada hari itu tidak ada jual beli dan persahabatan”.
Juga dalam Surat Al Hajj Ayat 77, Allah SWT berfirman : Hai orang-orang yang beriman, ruku’lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan.
Selain itu dalam surat Al Baqarah ayat 238 , Allah SWT berfirman : “Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wustha (Sholat Wustha merujuk pada shalat yang dianggap paling utama di antara sholat-sholat wajib lainnya. Dalam konteks Surah Al-Baqarah ayat 238, salat Wustha sering diartikan sebagai shalat Ashar) . Berdirilah untuk Allah SWT (dalam shalatmu) dengan khusyu”.
Demikian tadi mengapa salat mendapat kedudukan istimewa sehingga Allah SWT akan menimbang shalat yang pertama dihisab. Dasar lainnya adanya unsur syahadatain dalam shalat, merupakan keutamaaan shalat sehingga shalat merupakan ibadah yang pertama dihisab di hari kiamat.
Selanjutnya ibadah haji dilaksanakan di Mekkah atau ke Baitullah, karena melakukan tawaf adalah salah satu rukunnya, maka shalat juga dilakukan menghadap Baitullah.
Menurut Taufikurrahman, hisab atau perhitungan amal di akhirat adalah sebuah proses yang harus dijalani oleh setiap orang. Perhitungan itu menggunakan “timbangan”yang maha adil sehingga tidak ada yang teraniaya walau sekecil apapun amalnya.
Jaminan Allah terhadap keadilan itu disebutkan dalam surat Al-Anbiya ayat 47; Maka kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tidak seorangpun dirugikan walau sedikit, sekalipun hanya seberat biji sawi, pasti Kami mendatangkannya (pahala), dan cukupkanlah Kami yang membuat perhitungan.
Dari hasil timbangan atau perhitungan itu, akan diserahkan kepada setiap orang berupa kitab catatan amalnya. Jika kitab catatan diberikan dari arah kanannya, sebuah pertanda orang itu berada dalam kehidupan yang diridhai dan mendapat balasan surga yang tinggi. Selain itu ada pula yang menerima kitab catatan dari arah kiri, sebuah pertanda kesedihan yang menimpanya.
Selama di dunia tentu banyak amal yang dikerjakan oleh manusia,terutama amal yang menyangkut ibadah dan penghambaan kepada Allah.
Menurut Quraish Shihab, bahwa yang pertama dihisab di hari kiamat nanti adalah salat.Jika salatnya baik maka baiklah seluruh amalnya. Salat memang rukun Islam yang kedua di antara yang lima. Mengapa salat menjadi ukuran pertama, mengapa tidak puasa yang bila dilihat dari segi waktu mengerjakan cukup lama, dari terbit fajar hingga tenggelam matahari.
Selain puasa, ada ibadah haji. Tidak semua orang Islam dapat melakukan ibadah haji. Hanya mereka yang mempunyai kemampuan dari segi finansial dan kesehatan. Mengapa ibadah ini tidak disebutkan sebagai ibadah yang pertama dihisab?
Begitu juga dengan rukun Islam yang keempat yaitu zakat. Kewajiban zakat terutama zakat mal, hanya tertentu pada orang-orang yang memiliki harta dan telah sampai nisab. Ibadah zakat juga bukan hal yang pertama diperhitungkan di akhirat nanti. Rukun Islam yang pertama adalah syahadatain. Pengucapan dua kalimat syahadat merupakan awal seseorang disebut sebagai muslim. Sebagai sebuah ikrar keyakinan kepada Allah SWT dan percaya kepada nabi-Nya. Hal itupun tidak disebut sebagai ibadah pertama yang dihisab pada hari kiamat nanti.
Menurut Muhammad Abduh Tuasikal pertama dihisab amal seorang hamba di akhirat kelak adalah shalat. Sebagian ulama juga menambahkan bahwa disamping memenuhi syarat dan rukun, shalat dikerjakan dengan khsuyu’. Salat yang di dalamnya terjadi kontak batin dengan intens dan komunikasi efektif itulah yang disebut dengan salat khusyu’.
Salat yang dikerjakan telah sesuai syarat dan rukunnya dan dilakukan dalam kondisi khusyu’, kondisi dimana seseorang merasakan bahwa dirinya sedang berhadapan dengan Allah SWT . Kendatipun ia tidak melihat Allah SWT, tetapi hatinya tahu bahwa Allah SWT melihatnya, sebuah ibadah yang bernilai tinggi di hadapan Allah SWT . Dan (shalat) itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’.
Jika Salat hanya dikerjakan memerlukan waktu antara lima menit atau sepuluh menit, tetapi dilakukan penuh konsentrasi. Berbeda dengan puasa tidak ada kewajiban konsentrasi seperti di dalam salat.
Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya amal yang pertama kali dihisab pada seorang hamba pada hari kiamat adalah shalatnya. Maka, jika shalatnya baik, sungguh ia telah beruntung dan berhasil. Dan jika shalatnya rusak, sungguh ia telah gagal dan rugi “.
* Penulis Alumni Tahassush Kulliyatil Muballighin Assyakur Angkatan 31/2023 dan lulusan Magister Ekonomi Pembangunan FEB UGM
