SATUMEDIA.ID – Sebanyak 74 atlet National Paralympic Committee Indonesia (NPCI) Kabupaten Bandung Barat (KBB) dinyatakan lolos dengan status final setelah mengikuti proses klasifikasi resmi menjelang Pekan Paralimpik Daerah (Peparda) VII Jawa Barat 2026.
Dari total 81 atlet yang menjalani klasifikasi, dua atlet masih harus menjalani pemeriksaan lanjutan di Rumah Sakit Mata Cicendo, sedangkan tujuh atlet lainnya dinyatakan tidak memenuhi syarat kelas pertandingan.
Wakil Sekretaris Umum NPCI Kabupaten Bandung Barat, Acep Kurnia, mengatakan proses klasifikasi tahun ini menghadirkan tantangan baru menyusul diterapkannya regulasi terbaru dari NPC Indonesia.
“Aturan tersebut membuat sejumlah atlet harus berpindah nomor pertandingan, kelas, bahkan cabang olahraga sehingga memengaruhi penyusunan strategi tim menjelang Peparda yang tinggal sekitar empat bulan lagi,” kata Acep, Jumat (16/7/2026).
Meski demikian, Acep menilai persiapan kontingen KBB menunjukkan perkembangan positif. Jika pada Peparda sebelumnya hanya mengikuti sembilan cabang olahraga, pada edisi kali ini NPCI Bandung Barat akan tampil di 15 cabang olahraga dari total 17 cabang yang dipertandingkan.
Namun, peningkatan jumlah cabang yang diikuti itu masih dibayangi persoalan anggaran dan minimnya fasilitas latihan.
“Hingga kini kepastian anggaran hibah yang diterima NPCI Bandung Barat belum jelas. Kondisi tersebut membuat jadwal latihan atlet kerap terganggu.
Selain itu, KBB juga belum memiliki sarana dan prasarana latihan milik sendiri sehingga seluruh kebutuhan tempat latihan dan peralatan harus dipenuhi melalui biaya sewa.
Keterbatasan fasilitas itu, kata dia, paling terasa di cabang balap sepeda yang belum memiliki sepeda balap tunggal maupun sepeda tandem bagi atlet tunanetra.
Sementara itu, cabang boling yang menjadi salah satu andalan peraih medali bahkan terpaksa menghentikan latihan karena dana untuk menyewa gelanggang telah habis.
“Bantuan konsumsi dan transportasi dari Pemkab Bandung Barat telah membantu kebutuhan atlet. Namun, dukungan terhadap peralatan khusus serta tenaga pendamping spesialis masih jauh dari kebutuhan ideal,” sebutnya.
Ia juga menyoroti beban biaya transportasi yang harus ditanggung atlet yang berasal dari wilayah pelosok untuk mengikuti latihan rutin.
Di sisi lain, perubahan sistem klasifikasi dinilai turut memengaruhi peluang perolehan medali. Cabang panahan dan tenis meja showdown tunanetra diperkirakan menghadapi persaingan yang lebih berat akibat penyesuaian kelas pertandingan.
Karena itu, NPCI Bandung Barat kini mengandalkan peluang medali dari cabang boling, anggar, atletik, judo, dan renang. Adapun pesaing utama diperkirakan berasal dari Kota Bandung, Kabupaten Bogor, dan Kabupaten Bandung yang dinilai memiliki persiapan lebih matang.
“NPCI berharap Pemkab Bandung Barat bersama DPRD segera memberikan kepastian terkait anggaran hibah serta mendukung pembangunan stadion dan gelanggang olahraga khusus bagi atlet disabilitas,” ujarnya.
Menurut Acep, fasilitas dan dukungan pendanaan yang memadai dibutuhkan tidak hanya untuk menghadapi Peparda, tetapi juga sebagai bagian dari pembinaan atlet menuju Pekan Para Pelajar, Peparpenas, hingga seleksi nasional.
Ia mengingatkan, tanpa kepastian dukungan dari pemerintah daerah, potensi atlet-atlet berprestasi asal Bandung Barat berisiko berpindah membela daerah lain.*





