SATUMEDIA.ID – Hujan lebat yang mengguyur wilayah Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung menyebabkan Sungai Cikapundung Kolot, Cigede, dan Cipalasari meluap.
Luapan ketiga sungai tersebut menyebabkan terjadinya banjir yang menggenangi Kampung Lamajang dengan ketinggian 10-90 centimeter, Sukabirus 20-70 centimeter, Cilisung 20-80 centimeter.
“Ada 1.744 kepala keluarga (KK) terdampak banjir yang berasal dari luapan tiga sungai. Kejadiannya Rabu malam tadi, sekitar pukul 21.00 WIB,” kata Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bandung, Uka Suska Puji Utama saat dihubungi, Kamis (15/5/2025).
Selain menggenangi perkampungan penduduk, banjir juga sempat memutus jalan penghubung Kampung Lamajang dengan Sukabirus sehingga tak dapat dilalui kendaraan.
“Alhamdulillah Kamis ini banjir mulai surut. Namun masyarakat harus tetap waspada, mengingat hujan masih berpotensi turun,” ujarnya.
Ia mengingatkan, sekalipun sekarang sudah memasuki musim kemarau atau kemarau basah namun masih memungkinkan turun hujan.
“Sekarang masih memungkinkan turun hujan walaupun sebetulnya sudah memasuki musim kemarau (kemarau basah),” ucapnya.
Oleh karena itu, lanjut Uka, pihaknya terus berkoordinasi dengan pemerintah desa, Babinsa, Bhabinkamtibmas, BPD, sampai RW dan RT,” sebutnya.
Sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau tahun 2025 diprediksi akan berlangsung lebih singkat dari biasanya di sebagian besar wilayah Indonesia. Hal ini berdasarkan pemantauan dan analisis dinamika iklim global dan regional yang dilakukan BMKG hingga pertengahan April 2025.
Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, menyampaikan bahwa awal musim kemarau tahun 2025 telah mulai terjadi sejak April dan akan berlangsung secara bertahap di berbagai wilayah Indonesia.
“Awal musim kemarau di Indonesia diprediksi tidak terjadi secara serempak. Pada bulan April 2025, sebanyak 115 Zona Musim (ZOM) akan memasuki musim kemarau. Jumlah ini akan meningkat pada Mei dan Juni, seiring meluasnya wilayah yang terdampak, termasuk sebagian besar wilayah Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, dan Papua,” ujar Dwikorita.
Diterangkan, fenomena iklim global seperti El Nino-Southern Oscillation (ENSO) dan Indian Ocean Dipole (IOD) saat ini berada dalam fase netral, yang menandakan tidak adanya gangguan iklim besar dari Samudra Pasifik maupun Samudra Hindia hingga semester II tahun 2025.*





