Waspada Banjir, 9 Titik AWLR di Kabupaten Bandung Pantau Ketinggian Air Sungai

Banjir menggenangi ruas jalan Dayeuhkot, Kabupaten Bandung akibat luapan Sungai Citarum, beberapa waktu lalu.(Dicky Mawardi/Satumedia).**

SATUMEDIA.ID – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bandung mengandalkan sembilan alat Automatic Water Level Recorder (AWLR) untuk memantau perubahan ketinggian muka air sungai memasuki awal musim hujan.

Alat Pencatat Tinggi Muka Air Otomatis tersebut dipasang di sejumlah daerah aliran sungai (DAS) yang tersebar di Kabupaten Bandung. Data dari AWLR digunakan untuk mengetahui kondisi ketinggian air sekaligus menjadi salah satu indikator kewaspadaan terhadap potensi banjir.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Bandung Gamber Irmawan Premono mengatakan, sembilan titik AWLR tersebut memantau ketinggian air di Sungai Cijalupang, Cikaro, Cikeruh, Cimalabar, Cisangkuy, Cisungalah, Citarum, Ciwaru, dan Ciwidey.

“Di Kabupaten Bandung sudah ada sembilan titik AWLR untuk mendeteksi dan memantau ketinggian air. Dari alat ini bisa terlihat kondisi air, apakah masih dalam batas aman atau sudah melewati ambang yang ditentukan,” ujar Gamber di Soreang, Jumat (2/10/2026).

Menurut Gamber, sistem pemantauan tersebut menggunakan indikator warna untuk membantu petugas membaca kondisi ketinggian air.

Jika indikator masih menunjukkan warna hijau, kondisi air dinilai masih aman. Sementara ketika indikator berubah menjadi merah karena ketinggian air melewati batas atas, BPBD akan meningkatkan kesiapsiagaan.

“Kalau sudah merah, berarti harus ada kesiapan karena ketinggian air tersebut berpotensi berdampak pada banjir maupun bencana lainnya,” katanya.

Keberadaan AWLR menjadi bagian dari upaya BPBD meningkatkan deteksi dini menghadapi perubahan cuaca dari musim kemarau menuju musim hujan.

Selain memantau ketinggian air, BPBD bersama relawan juga menyiapkan berbagai kebutuhan menghadapi kemungkinan terjadinya bencana hidrometeorologi.

Peralatan kedaruratan seperti perahu dan logistik untuk penanganan banjir telah disiapkan. Relawan juga disiagakan untuk membantu proses penanganan apabila terjadi bencana.

Gamber mengatakan, wilayah yang selama ini memiliki potensi banjir cukup tinggi antara lain Baleendah, Bojongsoang, dan Dayeuhkolot.

“Peralatan kedaruratan sudah kami persiapkan di wilayah tersebut. Jadi apabila terjadi banjir, peralatan sudah siap digunakan,” ujarnya.

Selain kesiapan petugas dan peralatan, BPBD juga meminta masyarakat ikut melakukan pencegahan dengan menjaga saluran air tetap bersih.

Masyarakat diminta tidak membuang sampah sembarangan serta melakukan gotong royong membersihkan gorong-gorong, saluran air, dan endapan sedimentasi yang dapat menghambat aliran air.

“Saluran air perlu dibersihkan supaya alirannya lancar, sehingga genangan bisa diminimalkan dan tidak berkembang menjadi banjir,” kata Gamber.

Ia juga mengingatkan masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana lain selama perubahan musim, termasuk longsor dan gempa bumi.

Menurut Gamber, masyarakat perlu memiliki kemampuan untuk melakukan penyelamatan secara mandiri sebelum bantuan dari BPBD, relawan, maupun unsur pentahelix tiba di lokasi.

“Masyarakat harus bisa menyelamatkan diri sendiri dan keluarganya ketika terjadi bencana sebelum petugas, relawan, maupun pentahelix datang ke lokasi,” ujarnya.

Sementara untuk mengantisipasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), masyarakat diimbau tidak membakar sampah serta tidak membuang puntung rokok sembarangan yang berpotensi memicu kebakaran.*

Pos terkait