Gempa Beruntun Guncang Pangalengan, BPBD Kabupaten Bandung Datangi Kawasan Star Energy

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Bandung Gamber Irmawan Premono.(Dok Diskominfo Kabupaten Bandung).**

SATUMEDIA.ID – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bandung bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mendatangi kawasan PT Star Energy Geothermal Pangalengan, Kabupaten Bandung, untuk mengecek kondisi lapangan setelah terjadi rentetan gempa bumi dangkal.

Pemantauan tersebut dilakukan menyusul tercatatnya sekitar 130 kali gempa bumi di wilayah Pangalengan dan Kertasari pada 11-17 September 2026.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Bandung Gamber Irmawan Premono mengatakan, pengecekan ke kawasan perusahaan panas bumi tersebut dilakukan karena sebelumnya terdapat informasi mengenai rencana pengeboran sembilan sumur panas bumi.

Namun, berdasarkan hasil pemantauan bersama BMKG dan Camat Pangalengan, aktivitas pengeboran tersebut belum dimulai.

“Setelah kami datang ke lokasi bersama BMKG dan melihat peta kerawanan gempa, rencana pengeboran sembilan titik sumur itu ternyata belum dimulai,” ujar Gamber saat ditemui di Soreang, Selasa (22/9/2026).

Gamber mengatakan, hasil pencermatan peta menunjukkan lokasi sembilan titik rencana pengeboran tidak berada di sekitar titik-titik gempa yang tercatat selama periode tersebut.

Selain itu, patahan atau sesar yang terlihat pada peta juga tidak mengarah ke kawasan PT Star Energy Geothermal Pangalengan.

“Kalau dilihat dari peta, sumber getaran gempa tidak mengarah ke lokasi rencana pengeboran. Sembilan titik sumur itu juga tidak berada di 130 lokasi gempa yang tercatat,” katanya.

Gamber menjelaskan, rentetan gempa yang terjadi di Pangalengan dan Kertasari pada 11-17 September 2026 memiliki kekuatan sekitar 2 hingga 3,5 magnitudo.

Gempa dengan kekuatan hingga 3,5 magnitudo tersebut bahkan dirasakan oleh sebagian masyarakat di wilayah Bandung dan sekitarnya.

“Mulai 11 sampai 17 September, gempa di Pangalengan berkisar 2 sampai 3,5. Yang 3,5 itu getarannya dirasakan sampai Bandung dan sekitarnya,” kata dia.

Saat turun ke lapangan bersama Kepala Stasiun Geofisika Kelas I Bandung BMKG Suaidi Ahadi, BPBD mendapatkan informasi bahwa aktivitas kegempaan di wilayah tersebut mencapai sekitar 130 kejadian.

Kondisi tersebut membuat BPBD meningkatkan kewaspadaan, terutama untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya gempa dengan kekuatan lebih besar.

“Kita khawatir yang awalnya gempa kecil kemudian tiba-tiba terjadi gempa yang lebih besar. Itu yang harus kita waspadai bersama masyarakat Pangalengan dan Kertasari,” ujarnya.

Gamber menegaskan, berdasarkan hasil pemantauan bersama BMKG, rentetan gempa tersebut tidak berkaitan dengan rencana pengeboran di kawasan PT Star Energy Geothermal Pangalengan.

BPBD kini lebih memprioritaskan peningkatan kesiapsiagaan masyarakat di wilayah yang terdampak getaran gempa.

Menurut dia, masyarakat harus mengetahui langkah yang harus dilakukan ketika gempa terjadi, baik saat berada di dalam rumah, bangunan, maupun di ruang terbuka.

“Kami ingin masyarakat tahu harus berbuat apa ketika gempa terjadi, siapa melakukan apa, dan bagaimana menyelamatkan diri. Itu yang harus diperkuat melalui edukasi dan simulasi di lapangan,” tuturnya.

BPBD juga akan menggelar rapat koordinasi dengan melibatkan BMKG untuk memberikan penjelasan lebih detail mengenai aktivitas gempa di Pangalengan.

Dalam kegiatan tersebut, BMKG akan memberikan penjelasan mengenai kondisi kegempaan sekaligus kesiapsiagaan menghadapi perubahan musim dari kemarau menuju musim hujan.

Gamber mengatakan, sosialisasi dan edukasi akan lebih difokuskan di Pangalengan karena wilayah tersebut mengalami rentetan gempa dalam jumlah cukup banyak.

“Kita lebih fokus memberikan sosialisasi dan edukasi di Pangalengan karena potensi gempanya sudah terjadi. Ini bukan sekadar wacana, sehingga masyarakat perlu benar-benar siap,” katanya.

Ia berharap masyarakat tetap tenang tetapi tidak mengabaikan potensi bencana.

“Lebih baik kita siap menghadapi ancaman gempa meskipun ternyata tidak terjadi gempa besar, daripada tidak siap kemudian gempa besar benar-benar terjadi,” ujar Gamber.

 

Pos terkait