SATUMEDIA.ID – Badan Geologi merekomendasikan relokasi rumah penduduk yang mengalami rusak berat akibat longsor di Kampung Gunung Batu RT 3/RW 9, Desa Nagreg Kendan, Kecamatan Nagreg, Kabupaten Bandung.
“Badan Geologi sudah menyelesaikan kajian lokasi longsor di Desa Nagreg Kendang. Salah satu rekomendasinya, menyarankan untuk merelokasi warga yang rumahnya rusak berat ke tempat yang lebih aman,” kata Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bandung, Uka Suska Puji Utama melalui sambungan telepon, Jumat (23/5/2025).
Ia menambahkan, Badan Geologi dalam suratnya nomor 727.Lap/GL.30/BGL/2025 tertanggal 21 Mei 2025 menyebut alasan perlunya merelokasi warga yang rumahnya rusak berat, karena daerah tersebut masih berpotensi terjadi longsoran susulan.
Potensi longsor susulan masih berpotensi terjadi, karena daerah tersebut membentuk mahkota dengan gawir setinggi 75 meter, sehingga jarak yang aman berkisar lebih dari 150 meter atau 2 kali tinggi gawir tersebut.
“Badan Geologi juga menyarankan
dilakukan penguatan lereng pada tebing yang longsor sesuai kaidah
geoteknik. Masyarakat yang terancam, sebelum dilakukan penguatan lereng sebaiknya mengungsi ke lokasi yang lebih aman terutama pada saat dan setelah turun hujan,” tuturnya.
Selain itu, lanjut Uka Suska, Badan Geologi juga menyarankan pemotongan kaki lereng bukit harus diikuti kajian teknis karena akan mengurangi gaya penahan longsor seiring dengan waktu jika curah hujan
tinggi akan menjadi mudah longsor.
Sementara itu, berdasarkan analisis dari data sekunder di Badan Geologi menyebutkan, secara umum daerah bencana berada di Kaki Gunung Batu atau Bukit Sangianganjung. Bukit terjal dengan kelerengan mencapai 20° – 70°. Pada
kaki lereng kaki bukit tersebut dipotong untuk lapangan bola dan pemukiman.
Lapangan bola berada tepat di bawah tebing yang dipotong dan permukiman terjauh berjarak 100 meter. Beda tinggi mahkota longsor dengan
pemukiman berkisar 20 – 75 m. Lokasi gerakan tanah atau tanah longsor
berada pada ketinggian 900 mdpl.
Badan Geologi menyebut, faktor penyebab terjadinya tanah longsor antara lain, kemiringan lereng tebing yang terjal, pemotongan kaki lereng tanpa perkuatan sehingga mengurangi gaya
penahan longsor, tanah pelapukan yang tebal dan dibawahnya berupa batuan vulkanik (tuff) bersifat impermeable sehingga muncul banyak rembesan pada
kontak tersebut.
“Perubahan tata guna lahan secara tidak langsung turut berperan dalam
terjadinya longsoran, serta curah hujan tinggi dengan durasi lama sebelum terjadi gerakan tanah,” kata Uka Suska.
Diketahui, bencana pergerakan tanah atau longsor pada terjadi pada Minggu (18/5/2025) sekitar pukul 22.00 WIB, setelah hujan dengan intensitas tinggi dan lama.
Akibat kejadian tersebut, merusak Kantor Desa Nagreg Kendan, 6 rumah warga, 1 musala, 1 mobil, dan 4 sepeda motor. Sebanyak 85 kepala keluarga (KK) terdiri dari 195 jiwa mengungsi.*





