Wow! Jumlah Kendaraan Pribadi di Kota Bandung Hampir Sama dengan Populasi Penduduk

Kemacetan lalu lintas di jalanan Kota Bandung menjadi pemandangan sehari-hari. Salah satu faktor penyebabnya semakin banyak kendaraan pribadi tak diimbangi dengan kondisi ruas jalan.(Dicky Mawardi/Satumedia).**

SATUMEDIA.ID – Kemacetan lalu lintas sejumlah ruas jalanan di Kota Bandung seolah menjadi pemandangan biasa. Disadari atau tidak, ternyata setiap tahun kondisi kemacetan bertambah buruk.

Adalah wajar jika Platform TomTom Traffic menempatkan Kota Bandung sebagai kota paling macet di Indonesia. Disusul Medan, Palembang,  Surabaya dan Jakarta.

Salah satu faktor penyumbang kemacetan lalu lintas adalah semakin banyaknya kendaraan pribadi yang lalu lalang di jalanan Kota Bandung.

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan
menyebutkan, saat ini jumlah kendaraan pribadi di Kota Bandung hampir menyamai jumlah penduduknya, yang menjadi indikator kegagalan sistem transportasi publik.

“Jumlah penduduk Kota Bandung 2,6 juta, jumlah kendaraan pribadi bernomor D Bandung itu 2,3 juta. Artinya warga tidak percaya pada transportasi publik,” kata Farhan di Agate Bandung, Sabtu (5/7/2025).

Menurutnya, salah satu alasan masyarakat memilih kendaraan pribadi adalah karena angkutan umum dinilai tidak praktis, lambat, dan tidak terintegrasi. Sistem trayek dianggap tidak mampu menjawab dinamika mobilitas masyarakat urban saat ini.

Oleh karenanya, lanjut Farhan, salah satu upaya agar masyarakat tertarik kembali untuk menggunakan transportasi publik dengan mereformasi sistem transportasi publik di Kota Bandung harus dimulai dari perubahan total terhadap sistem trayek angkutan kota (angkot). Langkah ini sebagai upaya penyelesaian persoalan kemacetan di Kota Bandung.

Menurut Farhan, sistem trayek yang digunakan selama ini sudah tidak relevan dengan kebutuhan masyarakat urban saat ini, apalagi dengan kehadiran transportasi daring seperti ojek online (ojol) dan taksi berbasis aplikasi.

“Saya akan berjuang agar peraturan tentang trayek ini dibongkar total. Karena kalau masih menggunakan sistem trayek, angkot tidak akan bisa bersaing dengan ojol ataupun mobil daring lainnya,” tandasnya.

Ia menilai angkot harus berubah mengikuti pola layanan berbasis permintaan (on-demand) dan charter, bukan lagi sistem jalur tetap atau trayek yang justru membatasi fleksibilitas dan efisiensi angkutan umum.

Farhan mengusulkan agar angkot diintegrasikan ke dalam sistem cerdas berbasis teknologi Internet of Things (IoT).

Ia menyebut konsep ini sebagai “angkot cerdas” yang bisa memfasilitasi mobilitas lebih dinamis, dengan jadwal, rute, dan sistem pembayaran yang terintegrasi secara digital.

“Angkot kudu pintar. Harus terkoneksi dalam sistem IoT. Bisa disambungkan dalam jaringan grid yang memungkinkan masyarakat melihat posisi, rute, dan waktu tempuh angkot secara real time,” jelasnya.

“Saya akan minta agar regulasi tentang trayek, yang peninggalan masa lalu itu, harus mulai diubah. Harus diganti supaya angkot bisa lebih fleksibel dan bersaing,” imbuhnya.

Ia juga menyampaikan rencana pembangunan sistem Bus Rapid Transit (BRT) di Kota Bandung yang akan dimulai dalam waktu dekat.

Farhan mengingatkan masyarakat, pembangunan BRT akan berdampak pada lalu lintas kota selama dua tahun ke depan.

“Kita akan membangun konstruksi BRT yang akan membuat Bandung macet sampai dua tahun ke depan. Tapi ini investasi jangka panjang untuk perbaikan transportasi,” pungkasnya.*

Pos terkait