Ungkap Penyakit Misterius, Dispernakan KBB Ambil Sampel Darah Sapi Perah di Lembang

Kepala Bidang Kesehatan Hewan (Keswan) pada Dispernakan KBB Acep Rohimat memeriksa lidah sapi perah milik peternak di Kampung Pojok Girang, Desa Cikahuripan, Kecamatan Lembang, KBB, Jumat (25/7/2025).(Dicky Mawardi/Satumedia).*

SATUMEDIA.ID – Dinas Perikanan dan Peternakan (Dispernakan) Kabupaten Bandung Barat (KBB) mengambil sampel darah sapi perah sekandang dengan sapi yang mati terserang penyakit misterius.

Pengambilan darah sapi perah dilakukan di Kampung Pojok Girang, Desa Cikahuripan, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB). Sampel darah diambil dari sapi perah milik warga setempat.

“Hari ini kami melakukan investigasi baik itu sampel, kondisi kandang. Secara umum tidak menemukan sapi yang sakit, makan yang masih ok, cermin hidung masih basah berarti tidak ada demam. Pemberian pakan juga bervariasi, ada hijauan dan buatan,’ kata Kepala Bidang Kesehatan Hewan (Keswan) pada Dispernakan KBB Acep Rohimat di Lembang, Jumat (25/7/2025).

Ia menyebut, dalam investigasi juga diambil sampel darah sapi perah. Rencananya, sampel darah tersebut akan dibawa ke laboratorium di Cikole dan Subang untuk diperiksa.

“Sampel darah untuk pemeriksaan antigen penyakit mulut dan kuku (PMK), serta pemeriksaan kimia darah untuk mengetahui kandungan kalsium dan mineral lainnya yang ada di darah. Diperkirakan hasil laboratorium baru akan ketahuan satu Minggu,” jelasnya.

Ia meluruskan bahwa jumlah kematian 16 sapi perah bukan secara massal, melainkan terhitung sejak Januari sampai akhir Juli 2025 ini.

“Bukan wabah ya, ini hanya insidental. Sebelumnya, belum pernah kejadian. Itupun hanya terjadi di Kampung Pojok Girang, tidak menyebar,” sebutnya.

Ia mengimbau kepada peternak untuk selalu menjaga kesehatan lingkungan ternak. Pasalnya, kondisi lingkungan yang terjaga baik mencegah penyakit.

Kalau ada yang sakit segera pisahkan. Jauhkan dari yang sehat,” pesannya.

Salah seorang peternak, Iyus (43) mengatakan, salah satu piaraannya mati akibat mati oleh penyakit misterius. Kematiannya secara tiba-tiba tanpa ada gejala.

“Padahal pagi harinya susunya sempat diperah masih menghasilkan 14 liter susu. Tapi siangnya secara tiba-tiba mengalami kejang-kejang hingga kemudian mati,” kata Iyus warga Kampung Pojok Girang, RT 1/RW 4, Desa Cikahuripan.

Sapi berbobot sekitar 3 kuintal itu, baru tujuh hari melahirkan. Biasanya, sehari bisa menghasilkan 25 liter susu.

“Tapi beberapa jam sebelum mati, produksi susunya hanya 14 liter,” ucapnya.*

Pos terkait