Macan Tutul Gunung Ciremai Buat Gaduh Kuningan dan Bandung Barat

Foto ilustrasi macan tutul.(Pixabay).**

SATUMEDIA.ID – Seekor macan tutul yang diduga berasal dari kawasan Gunung Ciremai telah membuat kegaduhan di dua lokasi berbeda.

Macan tutul penghuni Gunung Ciremai memiliki nama lain  Panthera pardus melas. Spesies ini adalah subspesies dari macan tutul jawa yang tinggal dan bertahan di habitat Gunung Ciremai.

Macan tutul yang diperkirakan berusia 3 tahun ini, pertama kali membuat kegaduhan  saat bersembunyi di bangunan lama Balai Desa Kutamandarakan, Kecamatan Maleber, Kabupaten Kuningan, Selasa (26/8/2025) pagi.

Hewan karnivora ini tersebut ditemukan berada di dalam gudang penyimpanan kursi. Pertama kali terlihat seorang warga, Imam Supendi (33) saat membuka pintu bangunan untuk bekerja.

Macan tutul itu kaget kemudian lari ke gudang. Imam kemudian melaporkan temuan itu kepada perangkat desa. Untuk mengantisipasi hal yang tidak diinginkan, pintu ruangan segera ditutup agar hewan tidak kabur keluar.

Setelah ditangkap, kemudian macan tutul itu dibawa ke Lembang Park and Zoo di Parongpong, Kabupaten Bandung Barat (KBB).

Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat untuk di karantina di  Lembang Park and Zoo sebelum dilepasliarkan kembali ke Gunung Ciremai.

Namun setelah masuk karantina kabur dengan menjebol dinding atas, Kamis (28/8/2025) pagi. Sontak kaburnya kucing besar ini menimbulkan kehebohan sekaligus kekhawatiran masuk pemukiman warga.

Keberadaan macan tutul sempat terdeteksi
drone thermal masih dalam kawasan Lembang Park and Zoo pada Kamis (29/9/2025) dini hari. Terdeteksi bersembunyi dalam gorong-gorong.

Kepala Seksi Konservasi SDA Wilayah III Bandung, Ujang Acep, menyebut pergerakan macan tutul ini terpantau mengarah ke arah karantina kembali. Terpantau juga ketika menghilang ada kemungkinan masuk ke gorong-gorong.

“Berdasarkan hasil pemantauan drone thermal dan petugas, macan tersebut berada di Zona 3 Lembang Park Zoo. Alhamdulillah belum sampai masuk perkampungan,” kata Ujang Acep yang juga Koordinator Lapangan, Ujang Acep, Jumat (29/8/2025).

Pihaknya, lanjut Ujang Acep, dari pagi sampai siang sudah melakukan observasi di sekitar lokasi yang menjadi tempat persembunyian macan tutul.

“Kami menemukan bekas cakar di pohon kersen tak jauh dari gorong-gorong. Ditemukan pula kotoran, dan bekas tapak kaki macan tutul,” ungkapnya.

Untuk menarik macan tutul, tim memasang
umpan seperti domba dan ayam. Namun ternyata, ternyata tak menarik perhatiannya.

“Setiap hari tim gabungan mengoperasikan. drone thermal hingga ke arah hutan Gunung  Tangkubanparahu. Kita sudah datangkan drone thermaldari Taman Nasional Ujung Kulon. Ini speknya lebih besar,” kata
Kepala Balai Besar Konservasi dan Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat, Agus Arianto saat dikonfirmasi, Rabu (3/9/2025).

Ia memperkirakan macan tutul itu sudah tidak lagi berada di area Lembang Park and Zoo. Kemungkinan sudah kabur ke dalam hutan Gunung Tangkubanparahu.

“Diduga macan tutul itu sudah keluar dari Lembang Park and Zoo. Kemungkinan mengarah ke kawasan hutan Tangkubanparahu berdasarkan jejak terakhirnya. Kalau kita ukur jarak antara lokasi dengan kawasan hutan terdekat itu 800 meter. Ini baru dugaan ya,” kata Agus.

“Selain jaraknya dekat dengan kawasan hutan Tangkubanparahu, tapi juga merupakan habitat macan tutul,” sambungnya.

Macan tutul asal Gunung Ciremai ini, memang sudah tak lagi terdekteksi berada dalam kawasan Lembang Park and Zoo. Temuan jejak kakinya mengarah ke kawasan hutan Gunung Tangkubanparahu. Warga juga merasakan hal yang aneh dari anjing peliharaannya yang menggonggong terus menerus pada Sabtu (30/8/2025) malam.

Sementara itu, pantauan di lapangan, pengelola Lembang Park and Zoo masih belum membuka destinasi wisata tersebut. Gerbang masuk masih  ditutup.*

Pos terkait