Populasi Macan Tutul Jawa Terus Mengalami Penyusutan

Foto ilustrasi macan tutul.(Pixabay).**

SATUMEDIA.ID – Macan tutul Jawa atau dalam bahasa latin disebut Panthera pardus melas, selama satu pekan terakhir membuat heboh warga Kecamatan Parongpong, Kabupaten Bandung Barat (KBB).

Sejak lepas dari kandang karantina Lembang Park and Zoo (LPZ) lebih dari sepekan lalu, hingga kini keberadaannya masih misterius. Diperkirakan sudah menjauh dari pemukiman penduduk masuk ke kawasan hutan Gunung Tangkubanparahu.

Macan tutul tersebut berasal dari kawasan hutan yang masuk ke gudang kantor desa di Kabupaten Kuningan.

Berdasarkan data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), kawasan hutan Gunung Ciremai memang merupakan salah satu habitat macan tutul Jawa.

Macan tutul jawa merupakan salah satu satwa langka prioritas nasional dan dilindungi oleh Undang-Undang Negara Republik Indonesia No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya serta terdaftar sebagai satwa terancam (Endangered) di dalam daftar merah satwa terancam IUCN dan Apendiks I CITES yang dilarang untuk diperdagangkan secara internasional.

KLHK .menyebut, saat ini populasi macan tutul kurang lebih 350 individu dewasa di alam. Diduga terus mengalami penyusutan.

Untuk mengetahui data pasti populasi macan tutul, KLHK bekerja sama dengan Yayasan SINTAS Indonesia dan PT. Djarum melaksanakan kegiatan kick off meeting sebagai penanda diawalinya kegiatan survei macan tutul jawa se-Pulau Jawa, atau Java-Wide Leopard Survey (JWLS) pada 27 Februari 2024 lalu.

Survei yang memanfaatkan teknologi kamera pengintai (camera trap) ini ditujukan untuk mengetahui status populasi macan tutul jawa di seluruh habitat satwa liar yang tersisa di Pulau Jawa.

Selain survei kamera pengintai, JWLS juga mengumpulkan sampel kotoran macan tutul jawa untuk mengetahui struktur populasi macan tutul jawa dan preferensi satwa mangsanya.

Saat ini macan tutul jawa tersebar terutama di 29 petak habitat, sebagian besar adalah taman nasional, umumnya berukuran kecil dan terisolasi satu sama lain. Dengan perkiraan ukuran populasi kurang lebih 350 individu dewasa di alam, populasi macan tutul jawa diduga terus mengalami penyusutan dalam kurun waktu dua dekade terakhir, terutama akibat fragmentasi habitat.

Kemajuan pelaksanaan JWLS telah dicapai oleh para petugas Unit Pelaksana Teknis lingkup Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan dan para penggiat lingkungan yang tergabung di dalam 8 tim survei lapang JWLS.

Dari keseluruhan 21 bentang alam target, survei kamera pengintai telah selesai dilaksanakan di 7 bentang alam dan telah terpasang di 3 bentang alam lainnya. Dari ke-7 bentang alam yang telah disurvei, macan tutul jawa terdeteksi di 6 bentang alam, yaitu Rawa Danau, Burangrang, Ciremai, Panusupan, Sindoro – Dieng, dan Bromo Tengger Semeru. Tim survei belum berhasil mendeteksi keberadaan macan tutul jawa di bentang alam Merapi Merbabu.

Dari kamera pengintai, tim pengelola data JWLS telah berhasil mengidentifikasi sebanyak 34 individu macan tutul jawa, terdiri dari 11 jantan dan 23 betina. Dari keseluruhan individu yang teridentifikasi, 12 di antaranya adalah macan kumbang, sedangkan sisanya adalah macan tutul.

Sementara itu, hasil analisa genetika yang dilakukan di Laboratorium Analisis Genetik Satwa Liar Universitas Gajah Mada (UGM) telah berhasil mengidentifikasi 70 sampel kotoran milik macan tutul jawa, terdiri dari 37 jantan dan 18 betina. Sementara 15 sampel sisanya masih dalam proses analisa.

Tim teknis JWLS akan terus bekerja sampai seluruh kegiatan survei selesai pada awal 2026, hingga mencapai kesimpulan perkiraan ukuran populasi macan tutul jawa di setiap bentang alam target.

“Survei nasional macan tutul jawa atau JWLS ini merupakan bentuk nyata kolaborasi sumber daya nasional yang dilaksanakan oleh pemerintah dengan dukungan mitra kerja di tingkat tapak,” kata

Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kementerian Kehutanan, Prof. Satyawan Pudyatmoko dikutip dari laman KLHK, Minggu (7/9/2025).

Prof. Satyawan menyampaikan terima kasih dan apresiasi setinggi-tingginya kepada Yayasan SINTAS Indonesia, Universitas Gajah Mada, PT Djarum, PT Indopoly, PT Sinar Sosro Gunung Slamat, PT Sarana Berkat Sejahtera, dan PT Profesional Telekomunikasi Indonesia, PT Bank Central Asia, PT Star Energy Geothermal (Barito Group), LSM lokal, pemerintah daerah, Perhutani, dan berbagai pihak yang telah mendukung kegiatan JWLS ini.*

Pos terkait