SATUMEDIA.ID – Secara umum Arkeoastronomi adalah ilmu yang memadukan arkeologi, astronomi, dan antropologi untuk menyingkap bagaimana peradaban kuno membaca langit, menafsirkan gerak bintang, bulan, dan matahari bukan sekadar fenomena alam, melainkan panduan hidup, penentu waktu, hingga dasar kepercayaan spiritual mereka.
Irma Indriana Hariawang, alumni Astronomi Institut Teknologi Bandung (ITB) mengungkapkan, beberapa situs bersejarah dunia seperti Stonehenge di Inggris, Malta Temple di Malta, Gochang Dolmen di Korea, dan Piramida di Mesir disebut sebagai contoh klasik objek-objek arkeoastronomi yang menunjukkan keterkaitan antara arsitektur, langit dan manusia.
Bangunan-bangunan tersebut dibangun dengan mempertimbangkan posisi Matahari, Bulan, dan bintang, bahkan beberapa di antaranya berfungsi sebagai penanda waktu seperti kalender alam.
Pernyataan itu disampaikan Irma sebagai nara sumber pada acara World Space Week, Pusat Riset Antariksa (PRA) BRIN menggelar webinar yang bertajuk “100 Jam Astronomi untuk Semua” Jumat (3/10/2025).
Menariknya, jejak arkeoastronomi juga ditemukan di Indonesia. Dari hasil penelusurannya, Irma menemukan bahwa kebudayaan Indonesia sejak ribuan tahun lalu sebelum Masehi, manusia telah memanfaatkan langit sebagai navigasi, panduan bertani, dan upacara keagamaan.
Pengaruh astronomi dari Tiongkok, Indian (Amerika), Arab, dan Eropa secara bertahap membentuk kombinasi akulturasi budaya yang unik, seperti Kalender Saka, arah kiblat, hingga Pranoto Mongso (kalender yang dipercayai dalam bertani berbasis pada geraknya Matahari yang digunakan masyarakat Jawa).
Bukti peninggalan arkeoastronomi lainnya adalah dengan ditemukannya Candi Borobudur dan Candi Prambanan.
“Kedua candi tersebut terbukti dibangun berdasarkan keselarasan dengan Matahari dan Bulan. Ini membuktikan kecerdasan nenek moyang kita karena membangun candi tidak bisa sembarangan, perlu persiapan yang matang.” jelas Irma dikutip dari laman BRIN, Selasa (7/10/2025).
Selain itu, jejak arkeoastronomi yang terungkap di Indonesia juga telah ditemukannya berbagai artefak seperti Bejana Zodiak di Pasuruan, Gnomon Suku Kenyah Dayak di Kalimantan Timur, dan Bencet di Jawa Tengah.
Ketiganya memperlihatkan betapa erat hubungan antara langit dan kehidupan sehari-hari masyarakat karena masih digunakan sampai saat ini. Bejana Zodiak dapat dilihat secara langsung di Museum Nasional Indonesia, Jakarta.
Menurutnya, masih banyak warisan bersejarah di Indonesia yang belum terungkap dan dapat dipelajari lebih lanjut. Situs-situs arkeoastronomi mampu membawa potensi lebih luas khususnya pada astrowisata yang memiliki daya tarik bagi wisatawan.
Demi mendukung perkembangannya, diharapkan ada perguruan tinggi yang secara khusus bisa menggali lebih dalam ilmu arkeoastronomi sehingga peluang lebih terbuka untuk berkolaborasi riset antar disiplin ilmu.*





