41 Warga Bandung Barat Diterbangkan ke Jepang, Raup Gaji hingga Rp20 Juta Per Bulan

Kabid Pelatihan Produktivitas Penempatan Tenaga Kerja dan Transmigrasi pada Disnakertrans KBB, Dewi Andani.(Dicky Mawardi/Satumedia).**

SATUMEDIA.ID – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bandung Barat terus mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat lewat program penempatan tenaga kerja ke luar negeri. Upaya ini mulai menunjukkan hasil nyata, dengan 41 warga Bandung Barat berhasil berangkat bekerja ke Jepang sepanjang 2024–2025.

Kabid Pelatihan Produktivitas Penempatan Tenaga Kerja dan Transmigrasi pada Disnakertrans KBB, Dewi Andani, mengungkapkan bahwa jumlah tersebut merupakan hasil seleksi ketat dari sekitar 200 pendaftar.

“Dari sekitar 200 pendaftar, hanya 16 orang yang berhasil diberangkatkan tahun ini, disesuaikan dengan ketersediaan anggaran,” ujar Dewi saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis (13/11/2025).

Informasi lowongan kerja luar negeri, lanjut Dewi, disebarkan melalui berbagai saluran, termasuk media sosial dan selebaran. Para calon pekerja yang lolos seleksi wajib mengikuti pelatihan intensif selama enam bulan, mencakup bahasa dan budaya Jepang.

“Fokus kami pada keterampilan, bahasa, dan tata krama, karena budaya kerja di Jepang sangat disiplin dan berbeda dengan Indonesia,” jelasnya.

Beberapa peserta bahkan telah mengantongi sertifikat N4 dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP), yang menjadi modal penting dalam dunia kerja di Jepang. Peserta yang sudah memiliki sertifikat N4 dan dinilai siap, bisa diberangkatkan lebih cepat.

Dewi menambahkan, Disnakertrans KBB aktif melakukan pendampingan hingga proses keberangkatan. Komunikasi antara dinas, peserta, dan orang tua dilakukan secara intensif melalui grup WhatsApp.

“Kami terus memantau dan memberikan semangat lewat grup WhatsApp. Orang tua juga bisa langsung berinteraksi dan memantau perkembangan anak-anak mereka,” katanya.

Dewi menuturkan, banyak kisah inspiratif lahir dari para pekerja asal Bandung Barat yang kini sukses di Jepang. Salah satunya Asep, pemuda dari keluarga sederhana,  ibunya berjualan gorengan, ayahnya buruh serabutan.

“Berkat kerja keras dan kesempatan lembur di Jepang, Asep bisa membiayai sekolah adiknya yang sempat hampir putus. Bahkan, kini keluarganya punya kehidupan yang jauh lebih baik,” ujar Dewi bangga.

Cerita serupa juga datang dari pekerja lain yang ibunya hanya membuka warung kecil. Kini, usaha keluarganya berkembang pesat berkat kiriman dari Jepang.

Rata-rata gaji yang diterima para pekerja asal Bandung Barat di Jepang mencapai Rp18–20 juta per bulan, tergantung bidang pekerjaan. Mereka tersebar di berbagai sektor, seperti pertanian, teknisi, dan kesehatan.

Selain itu, mereka juga mendapat kesempatan mengikuti pendidikan lanjutan untuk meningkatkan keterampilan sesuai minat masing-masing.

Tak hanya melalui jalur pemerintah, sebagian pekerja juga berangkat lewat program Specialist Skill Worker (SSW), yang memungkinkan mereka berangkat tanpa rekomendasi dinas, namun tetap terdaftar resmi di Kemnaker atau BP2MI.

“Syarat utamanya dua: menguasai bahasa Jepang dan memiliki kompetensi teknis di bidangnya,” tutur Dewi.

Untuk menekan biaya pelatihan dan keberangkatan, Disnakertrans KBB menanggung biaya pelatihan sebesar Rp10 juta per peserta. Ke depan, Pemkab berencana menggandeng lembaga keuangan dan Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) melalui kerja sama atau MoU untuk membantu pembiayaan.

“Total biaya keberangkatan ke Jepang bisa mencapai sekitar Rp36 juta. Namun, dari jumlah itu, sekitar Rp6 juta akan dikembalikan sebagai modal hidup di awal bekerja,” pungkas Dewi.

Langkah Pemkab Bandung Barat ini diharapkan terus membuka peluang kerja luar negeri yang lebih luas, sekaligus menjadi pintu peningkatan kesejahteraan masyarakat di wilayah tersebut. *

Pos terkait