Bandung Barat Tetapkan Status Siaga Darurat hingga April 2026, Seluruh Kecamatan Masuk Zona Rawan

Bangunan SD di Desa Cibedug, Kecamatan Rongga, KBB rusak berat dampak pergerakan tanah yang terjadi Februari 2024.(Dicky Mawardi/Satumedia).**

SATUMEDIA.ID – Pemerintah Kabupaten Bandung Barat (KBB) resmi menetapkan Status Siaga Darurat Bencana untuk ancaman banjir, banjir bandang, cuaca ekstrem, dan tanah longsor. Status ini ditetapkan melalui SK Bupati KBB Nomor 100.3.3.2/Kep.359-BPBD/2025 yang ditandatangani Bupati Jeje Ritchie Ismail per 1 Oktober 2025.

“Kondisi siaga darurat ini berlaku sampai 30 April 2026 dan dapat diperpanjang sesuai kebutuhan di lapangan,” ujar Kepala Pelaksana BPBD KBB, Asep Sehabudin, saat ditemui Jumat (21/11/2025).

Menurut Asep, keputusan tersebut diambil setelah BMKG memprediksi curah hujan tinggi di wilayah Bandung Barat yang berpotensi memicu bencana hidrometeorologi. Seluruh 16 kecamatan di KBB, baik di wilayah utara maupun selatan, masuk kategori rawan.

“Bencana dominan di KBB adalah banjir bandang, longsor, serta pergerakan tanah,” jelasnya.

Di wilayah selatan, dua desa, yaitu Desa Sukamanah (Rongga) dan Desa Cintaasih (Cipongkor), tercatat mengalami pergerakan tanah aktif. Untuk Cintaasih, gerakan tanah yang sempat terjadi pada 2020 kini kembali muncul dan bahkan melebar hingga setengah meter sehingga dinilai membahayakan permukiman warga.

Asep mengungkapkan tantangan terbesar saat ini adalah proses relokasi warga. Di Desa Cibedug, Rongga, sekitar 40 KK masih menunggu kepastian lokasi relokasi karena BPBD kesulitan mencari lahan yang memenuhi syarat keamanan.

Sementara itu, untuk warga terdampak di Desa Cibenda, Cipongkor, Pemda KBB melalui Dinas Perkim telah menyiapkan proses pembebasan lahan.

“Pembebasan lahannya dilakukan oleh kami, sementara pembangunan rumahnya menggunakan APBN. Ini penting karena kontur tanah lama tidak layak dijadikan permukiman,” kata Asep.

Dalam konteks mitigasi, BPBD KBB juga menghadapi keterbatasan personel. Dari kebutuhan ideal 150 personel, BPBD hanya memiliki 45 orang.

“Maka kami maksimalkan peran relawan dan Desa Tangguh Bencana (Destana). Selain itu, dana BTT sebesar Rp30 miliar bisa digelontorkan jika terjadi bencana besar yang butuh respon cepat,” ujarnya.

Asep mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama saat hujan deras. Warga diminta segera mencari tempat aman dan melaporkan potensi bencana di lingkungan masing-masing agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat.

“Kewaspadaan bersama sangat penting untuk mencegah jatuhnya korban jiwa,” pungkasnya.*

Pos terkait