Transformasi Besar Pengelolaan Sampah Bandung: RW Jadi Garda Terdepan 3R

Lewat skema pengolahan organik di 1.597 RW, infrastruktur kota, dan partisipasi rumah tangga, Bandung menguatkan sistem kebersihan berlapis.(doc Diskominfo Kota Bandung).**

SATUMEDIA.ID – Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung terus mempercepat penyelesaian persoalan sampah meski kapasitas pengiriman ke TPA Sarimukti masih terbatas.

Data Humas Kota Bandung menunjukkan bahwa volume sampah harian mencapai 1.492 ton, sementara TPA Sarimukti hanya mampu menerima 938 ton per hari. Artinya, terdapat kelebihan sekitar 554 ton sampah setiap hari yang harus ditangani di dalam wilayah kota.

Hingga akhir kuartal 2025, Pemkot bersama sektor swasta telah mengoperasikan fasilitas 3R skala kota yang mampu menangani 207,58 ton per hari. Namun angka ini belum cukup menutup kekurangan tersebut, sehingga strategi penanganan diperluas hingga level RW, kawasan komersial, dan rumah tangga.

Sebagai langkah besar, sebanyak 1.597 RW kini ditetapkan sebagai pusat pengolahan sampah organik. Tiap RW memperoleh satu petugas pemilah dan pengolah dengan target pengolahan 100 kg per hari. Dengan skema ini, potensi pengolahan mandiri mencapai 159,7 ton per hari, sehingga RW bukan lagi sekadar unit administratif, melainkan bagian inti dari pengurangan sampah sejak dari sumbernya.

Para petugas RW diarahkan untuk memastikan sampah organik segera dipilah dan diolah, mengurangi timbunan di TPS, menekan potensi bau, dan menghasilkan kompos untuk mendukung kebun warga melalui program Buruan SAE.

Selain itu, Pemkot menargetkan kawasan usaha—hotel, restoran, perkantoran, ritel—serta rumah tangga dapat menyelesaikan sekitar 86,72 ton sampah per hari melalui pengelolaan internal.

Dengan demikian, terbentuklah sistem pengelolaan berlapis yang terdiri dari empat elemen utama: infrastruktur kota, RW, sektor usaha, dan keluarga, sehingga ketergantungan pada satu titik pengolahan dapat dikurangi.

Untuk residu yang tidak dapat diselesaikan di hulu 3R, kapasitas insinerator diperkuat sebagai solusi hilir, dengan komitmen tetap menjaga standar emisi dan tata kelola operasional yang disiplin. Penguatan insinerator ini diposisikan sebagai dukungan, bukan pengganti edukasi 3R.

Transformasi ini kemudian dipadukan dengan tiga program sirkular yang saling berkaitan:

  1. Kang Pisman, yang menekankan pengurangan dan pemilahan serta pemanfaatan sampah organik.

  2. Buruan SAE, yang memanfaatkan kompos dari warga untuk kebun kolektif dan keluarga.

  3. Dapur Dahsat, yang menghubungkan hasil panen kebun warga dengan upaya peningkatan gizi keluarga dan pencegahan stunting.

Ketiganya menciptakan ekosistem sirkular: sampah organik dipilah, diolah menjadi kompos dan eco-enzyme, kemudian kembali ke kebun warga sebagai pupuk, menghasilkan pangan sehat yang dapat dikonsumsi atau dibagikan, dan pada akhirnya mendukung perbaikan gizi keluarga.

Untuk memastikan sistem ini berjalan selaras, jadwal layanan kebersihan juga diatur ulang. Penyapuan jalan kini dimulai pukul 04.00 WIB agar ruang publik sudah bersih sebelum aktivitas warga dimulai dan tidak mengganggu jam sibuk sekolah maupun jam kerja.

Menurut Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, keberhasilan sistem kebersihan tidak hanya bergantung pada tonase, tetapi pada pengalaman nyata warga mulai dari gang yang bersih sejak pagi, berkurangnya bau di TPS, hingga pangan sehat yang kembali ke keluarga.

“Bandung butuh solusi yang sistemik, tegas, terukur, dan dirasakan manfaatnya langsung oleh warga. Kami perkuat layanan pengangkutan dan pengolahan di hilir, termasuk pengelolaan residu lewat insinerator dengan standar emisi yang terkendali,” ujarnya dikutip dari laman resmi Pemkot Bandung.

“Namun, kami juga transparan: masalah sampah tidak akan selesai hanya di fasilitas akhir. Itu sebabnya kami gerakkan 1.597 RW sebagai barisan terdepan gerakan pilah dan olah dari rumah, dari gang, dari lingkungan terdekat. Ketika sampah organik diolah jadi kompos, kebun pangan tumbuh di pekarangan, dan gizi keluarga meningkat. Di situlah sistem sirkular kita benar-benar bekerja,” paparnya.

Farhan menegaskan bahwa fokus penanganan sampah bukan hanya pada angka penyelesaian tonase, tetapi pada peningkatan kualitas hidup masyarakat Bandung.

“Dengan komitmen pemerintah yang kuat dan kolaborasi warga yang konsisten, insyaallah Bandung akan semakin bersih, sehat, dan lebih kuat,” ujarnya.

Pemkot Bandung optimistis pendekatan multi-simpul ini akan menutup kesenjangan kapasitas pengelolaan sampah secara bertahap, sekaligus membangun sistem yang benar-benar berorientasi pada kebutuhan warga—bukan sekadar memindahkan sampah, tetapi mengolahnya dari sumber, mengurangi bau TPS, menstabilkan ritme layanan, dan mengembalikan manfaatnya langsung ke lingkungan dan keluarga.

Pendekatan ini diharapkan memperkuat ketahanan kebersihan kota dalam jangka panjang.*

Pos terkait