SATUMEDIA.ID – Kepedulian terhadap lingkungan hidup terus ditanamkan sejak dini di Kabupaten Bandung. Melalui gerakan bersama yang melibatkan siswa sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP), Pemerintah Kabupaten Bandung berhasil menghimpun sebanyak 5,2 juta biji tanaman kayu keras dan buah-buahan yang siap disebar dalam waktu dekat.
Gerakan ini digagas Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Bandung sebagai tindak lanjut Instruksi Bupati Bandung Dadang Supriatna terkait edukasi konservasi lingkungan sejak usia sekolah.
Kepala Disdik Kabupaten Bandung, Asep Kusumah, mengatakan pengumpulan jutaan biji tanaman tersebut merupakan wujud nyata pendidikan karakter sekaligus kepedulian terhadap tantangan perubahan iklim yang kian ekstrem.
“Gerakan ini menindaklanjuti instruksi Pak Bupati yang sejalan dengan visi Kabupaten Bandung Bedas, Maju, dan Berkelanjutan menuju Indonesia Emas, khususnya misi peningkatan kualitas infrastruktur yang berwawasan lingkungan,” ujar Asep dalam keterangannya, Jumat (26/12/2025).
Menurut Asep, perubahan iklim yang semakin ekstrem berpotensi memicu berbagai bencana klimatologi seperti longsor dan banjir bandang. Karena itu, edukasi dan keterlibatan siswa menjadi langkah strategis untuk membangun kesadaran kolektif sejak dini.
“Arahan Pak Bupati pada 16 Desember 2025 menekankan pentingnya edukasi konservasi sebagai bagian dari pembentukan karakter siswa agar memiliki kepedulian dalam menjaga, melindungi, dan meningkatkan kualitas lingkungan hidup,” kata dia.
Gerakan ini juga mengacu pada berbagai regulasi, mulai dari UUD 1945, Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, hingga sejumlah instruksi Bupati Bandung terkait konservasi lahan, gerakan menanam pohon kesayangan (GEP4K Sayang), serta penurunan emisi gas rumah kaca.
Sebagai tindak lanjut, Disdik Kabupaten Bandung menginstruksikan seluruh kepala satuan pendidikan SD dan SMP untuk melakukan sosialisasi potensi bencana klimatologi serta mengembangkan inovasi pembelajaran berbasis lingkungan.
“Sekolah didorong menjadi pusat edukasi kesadaran lingkungan, termasuk melalui praktik langsung menanam pohon untuk meningkatkan tutupan lahan dan daya serap air,” ujar Asep.
Setiap siswa diminta mengumpulkan minimal lima biji tanaman kayu keras, yang kemudian akan dimanfaatkan untuk percepatan penanaman di lahan-lahan kritis dengan risiko tinggi longsor dan banjir.
Jenis biji yang dikumpulkan meliputi tanaman kayu keras berfungsi konservasi seperti albasiah, mahoni, kaliandra, ganitri, kemiri, jamuju, manglid, hingga tanaman buah-buahan seperti nangka, rambutan, salak, mangga, durian, dan alpukat.
“Tanaman-tanaman ini memiliki daya serap air tinggi, cepat tumbuh, dan berfungsi mencegah longsor. Kami berharap gerakan ini menjadi investasi lingkungan jangka panjang bagi Kabupaten Bandung,” pungkas Asep.*





