SATUMEDIA.ID – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menaruh perhatian serius pada ancaman gigitan ular yang dihadapi masyarakat Baduy di Kabupaten Lebak, Banten. Isu ini mencuat dalam kunjungan kerja Sekretaris Jenderal Kemenkes Kunta Wibawa Dasa Nugraha ke wilayah Baduy, Selasa (31/12/2025).
Kunta mengatakan, aktivitas masyarakat Baduy yang sebagian besar bertani dan berladang di kawasan hutan membuat risiko gigitan ular berbisa tidak bisa diabaikan. Karena itu, kesiapsiagaan antibisa ular (antivenom) menjadi perhatian, meski penggunaannya harus melalui prosedur medis yang ketat.
“Antibisa tidak bisa digunakan sembarangan. Penanganannya harus sesuai standar medis,” ujar Kunta dikutip dari laman resmi Kemenkes, Sabtu (3/1/2026).
Ia menjelaskan, antibisa ular tidak disimpan di setiap titik layanan kesehatan di Baduy, melainkan ditempatkan di puskesmas rujukan yang memiliki tenaga medis terlatih untuk menangani kasus gigitan ular. Jumlahnya pun terbatas dan disesuaikan dengan kebutuhan.
“Antibisa sudah ada di puskesmas rujukan, tapi memang tidak banyak,” katanya.
Apabila terjadi gigitan ular, Kunta menyebutkan penanganan awal dapat dilakukan untuk menghambat penyebaran racun sebelum pasien dirujuk. Puskesmas akan segera berkoordinasi agar penanganan lanjutan dapat dilakukan tanpa penundaan.
“Langkah awal dilakukan dulu, kemudian puskesmas datang untuk penanganan lebih lanjut,” ucapnya.
Kemenkes juga mengakui jarak tempuh menuju puskesmas rujukan dari wilayah Baduy dapat mencapai sekitar satu setengah jam. Namun demikian, koordinasi antarpetugas kesehatan terus diperkuat agar pasien tetap mendapatkan layanan secepat mungkin.
Sementara itu, masyarakat Baduy menilai antibisa ular masih menjadi kebutuhan mendesak. Narja, warga Desa Cihuni, Baduy Luar, mengatakan risiko gigitan ular sering dihadapi warga saat bekerja di ladang.
Menurut Narja, antibisa tidak diminta untuk tersedia secara berlebihan, tetapi cukup sebagai langkah antisipasi dalam keadaan darurat. Keterbatasan stok obat tersebut, kata dia, kerap menyulitkan tenaga kesehatan di lapangan.
“Bukan minta banyak, tapi buat jaga-jaga. Soalnya obatnya susah, sering tidak ada,” ungkapnya.
Selain fokus pada antibisa, Kemenkes juga menegaskan komitmen penguatan layanan kesehatan dasar di wilayah Baduy, termasuk pemeriksaan kesehatan rutin dan edukasi kepada masyarakat. Kunta berharap warga semakin sadar pentingnya memeriksakan kesehatan sejak dini.
“Kalau rutin diperiksa, kita bisa tahu lebih cepat masalah kesehatannya,” pungkasnya.





