SATUMEDIA.ID – Pemerintah Kota (Pemkot) Cimahi memastikan proyek strategis Underpass Gatot Subroto akan memasuki tahap konstruksi pada Februari 2026. Proyek ini digadang-gadang menjadi solusi utama untuk mengurai kemacetan kronis di jantung Kota Cimahi, terutama akibat padatnya perlintasan kereta api dan akses menuju Kereta Cepat Jakarta–Bandung (KCJB).
Wali Kota Cimahi, Ngatiyana, mengatakan seluruh persiapan teknis dan administrasi lintas lembaga hampir rampung. Koordinasi intensif telah dilakukan bersama Pemerintah Provinsi Jawa Barat, TNI, Kodam, hingga Kementerian Pertahanan dan Kementerian Keuangan.
“Rapat dan koordinasi sudah selesai. Tinggal pelaksanaan setelah seluruh perizinan lengkap. Targetnya, proyek mulai berjalan pada triwulan kedua tahun depan,” kata Ngatiyana.
Underpass sepanjang sekitar 600 meter itu rencananya dibangun di kawasan depan Pussenarmed, yang selama ini dikenal sebagai salah satu titik kemacetan terparah di Cimahi. Keberadaan terowongan bawah tanah diharapkan dapat menghilangkan hambatan akibat palang pintu perlintasan kereta api.
Tak hanya fokus pada kelancaran lalu lintas kendaraan, proyek ini juga dirancang menyentuh aspek penataan kota. Pemkot Cimahi akan merevitalisasi trotoar serta meningkatkan sistem drainase guna meminimalkan risiko genangan dan banjir saat musim hujan.
“Kita tidak hanya membangun untuk kendaraan bermotor, tetapi juga meningkatkan kenyamanan pejalan kaki sekaligus mengatasi persoalan genangan air,” ujar Ngatiyana.
Untuk mempercantik kawasan, Pemkot Cimahi juga berencana melibatkan seniman lokal dalam pembuatan mural di sekitar underpass, khususnya di kawasan depan Rumah Sakit Dustira.
“Harapannya, underpass ini tidak hanya fungsional, tetapi juga menjadi simbol keindahan dan kreativitas warga Cimahi,” katanya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kota Cimahi, Wilman Sugiansyah, menjelaskan bahwa tingkat kemacetan di kawasan Gatot Subroto diperparah oleh tingginya frekuensi perjalanan kereta api. KCJB melintas setiap 30 menit, sementara kereta antarkota dan lokal membuat palang pintu tertutup hingga tujuh menit dalam satu kali lintasan.
“Kondisi inilah yang membuat komitmen Pak Wali Kota tetap kuat untuk merealisasikan proyek ini, meskipun ada pemangkasan dana transfer dari pusat,” kata Wilman.
Menurut Wilman, anggaran pembangunan fisik underpass yang diperkirakan mencapai Rp 150 miliar akan dibiayai oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Adapun Pemkot Cimahi bertanggung jawab pada aspek pembebasan lahan.
“Tim kerja bersama TNI dan BUMN sudah bergerak, dan sejauh ini progresnya cukup positif,” ujarnya.
Underpass Gatot Subroto dirancang membentang dari pertigaan sebelum Kantor Pos, dekat Pusdik Komlek, hingga kawasan Taman Kartini, berdekatan dengan gerbang Pussenarhanud. Durasi pengerjaan diperkirakan memakan waktu sekitar 10 bulan.
“Dengan target penyelesaian pada akhir 2026, proyek ini menjadi prioritas utama Pemkot Cimahi di tengah tantangan fiskal. Harapannya, kualitas perjalanan warga meningkat dan konektivitas ekonomi Bandung Raya semakin kuat,” tuturnya.*





