Kerja bakti massal tersebut dilaksanakan secara bersamaan di empat desa dan satu kelurahan, yakni Desa Citeureup, Sukapura, Cangkuang Kulon, Cangkuang Wetan, serta Kelurahan Pasawahan. Sejak pagi hari, warga dari berbagai kalangan tampak bergotong royong membersihkan lingkungan di wilayah masing-masing.
Ketua Pentahelix Penanganan Banjir Dayeuhkolot, Tri Rahmanto, mengatakan kegiatan ini merupakan langkah awal membangun kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam menangani persoalan banjir yang kerap melanda kawasan Dayeuhkolot.
“Kerja bakti ini kami lakukan untuk mengantisipasi banjir akibat curah hujan yang tinggi. Ini juga menjadi program terobosan untuk mendorong keterlibatan masyarakat secara langsung dalam penanganan banjir,” kata Tri.
Ia mengapresiasi antusiasme warga yang secara sukarela terlibat dalam kegiatan tersebut. Menurutnya, sejak pagi hari warga—mulai dari anak muda hingga orang tua—sudah berkumpul di jalan-jalan protokol desa dan kelurahan untuk membersihkan selokan, drainase, serta mengangkut sampah dan sedimentasi lumpur.
“Alhamdulillah kegiatan berjalan lancar dan sesuai rencana. Hampir seluruh desa dan kelurahan berpartisipasi, meski kami menyayangkan satu desa belum melaksanakan kerja bakti,” ujarnya.
Di Kelurahan Pasawahan, ratusan warga terlihat kompak membersihkan saluran air yang tersumbat sampah dan lumpur. Bahkan, warga secara swadaya memperbaiki gorong-gorong yang rusak dan selama ini kerap menjadi penyebab genangan banjir.
Lurah Pasawahan, Gandung Audi, mengaku bangga dengan kekompakan warganya. Ia pun turun langsung ikut membersihkan selokan bersama masyarakat.
“Kami sangat mengapresiasi partisipasi aktif warga. Dengan semangat gotong royong seperti ini, kami optimistis persoalan banjir bisa ditangani secara bertahap,” kata Gandung.
Antusiasme serupa juga tampak di Desa Cangkuang Wetan. Selain membersihkan selokan, warga mengumpulkan sampah di sepanjang jalan desa untuk kemudian dibuang ke tempat pembuangan akhir.
Kepala Desa Cangkuang Wetan, Asep Kusmayadi, menyebut kerja bakti sudah menjadi budaya warganya selama lima tahun terakhir melalui kegiatan rutin Jumat Bersih.
“Kegiatan ini menunjukkan kesadaran dan komitmen warga dalam menjaga kebersihan lingkungan. Semangat sukarela mereka patut diapresiasi,” ujar Asep.
Tri Rahmanto menegaskan bahwa keberhasilan penanganan banjir di Dayeuhkolot tidak bisa hanya mengandalkan Panitia Pentahelix, melainkan membutuhkan kolaborasi semua pihak, termasuk masyarakat.
“Jika semua stakeholder kompak seperti ini, kami optimistis permasalahan banjir di Dayeuhkolot bisa diselesaikan,” tegasnya.
Ia menambahkan, kerja bakti massal ini menjadi pemanasan sebelum sejumlah program besar penanganan banjir mulai dijalankan pada Januari 2026, termasuk normalisasi sungai yang akan melibatkan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS), Dinas PUTR, dan Pentahelix.
“Mohon doa dan dukungan dari seluruh masyarakat. Insya Allah pertengahan Januari nanti program utama akan mulai berjalan,” pungkas Tri.*





