SATUMEDIA.ID – PT Perkebunan Nusantara (PTPN) I Regional 2 menyalurkan bantuan kemanusiaan kepada warga terdampak bencana tanah longsor di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Senin (26/1/2026).
Bantuan tersebut diserahkan langsung kepada masyarakat sebagai bentuk kepedulian dan tanggung jawab sosial perusahaan terhadap warga yang tengah menghadapi masa sulit akibat bencana.
Region Head PTPN I Regional 2, Desmanto, mengatakan kehadiran pihaknya bukan semata untuk memberikan bantuan darurat, tetapi juga sebagai wujud empati dan komitmen perusahaan untuk bergotong royong bersama berbagai pihak.
“Secara wilayah, lokasi perkebunan kami memang berjauhan dari lokasi bencana. Namun, tanggung jawab sosial tidak mengenal jarak. Kami hadir untuk bahu-membahu membantu masyarakat,” ujar Desmanto saat ditemui di Kantor Desa Pasirlangu.
“Kami akan hadir kembali dalam waktu dekat bersama holding dan PTPN III, bahu-membahu dengan Danantara membawa bantuan lagi,” sambungnya.
Berdasarkan data sementara, bencana tanah longsor di wilayah tersebut berdampak pada 113 warga. Hingga Senin siang, sebanyak 25 korban telah berhasil ditemukan oleh tim gabungan yang melakukan operasi pencarian dan evakuasi.
Dalam kesempatan tersebut, PTPN I Regional 2 menyalurkan bantuan antara lai berupa bahan makanan, selimut, dan sebagainya Desmanto berharap bantuan itu dapat sedikit meringankan beban para korban yang terdampak langsung.

Tak hanya fokus pada bantuan darurat, PTPN I Regional 2 juga menyatakan kesiapan untuk terlibat dalam upaya mitigasi bencana ke depan. Perusahaan akan memprioritaskan kawasan dengan tingkat kecuraman tinggi dan kondisi topografi yang berat.
“Kami akan melakukan mitigasi melalui penanaman di area-area terbuka, khususnya di daerah rawan longsor,” kata Desmanto.
Ia menjelaskan, Di Kabupaten Bandung Barat, PTPN mengelola kebun di Ciater dan Pangheotan dengan komoditi teh, serta beberapa lokasi lain yang digarap masyarakat.
Luas lahan yang dikelola PTPN I di Jawa Barat mencapai sekitar 14.000 hektare. Pihaknya berencana mengembalikan lahan yang saat ini ditanami sayuran ke komoditi perkebunan seperti kopi dan teh sesuai dengan topografi, sebagai bagian dari upaya mitigasi risiko.
“Areal garapan masyarakat akan disesuaikan kembali. Jenis tanaman akan diarahkan agar sejalan dengan komoditas teh, sehingga fungsi lingkungan dan konservasi tetap terjaga. Kaitan ini, kita akan berdayakan masyarakat sebagai pekerja di sana, sehingga mereka mendapatkan gaji sambil berkolaborasi melakukan penghijauan kembali,” ujarnya.
Langkah tersebut diharapkan menjadi bagian dari upaya jangka panjang untuk menekan potensi bencana serupa di wilayah Cisarua dan sekitarnya.*





