Bencana Longsor Cisarua, Sejumlah Objek Wisata Alam Bandung Barat Hentikan Operasional

Curug Pelangi di Kecamatan Cisarua, KBB ditutup sementara karena memiliki arus deras yang mengancam keselamatan pengunjung, Senin (26/1/2026).(Tangkapan layar).**

SATUMEDIA.ID – Sejumlah destinasi wisata (DTW) di Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB), ditutup sementara menyusul dampak bencana tanah longsor yang terjadi di wilayah tersebut. Penutupan dilakukan sebagai langkah antisipatif demi menjamin keselamatan wisatawan dan pengelola.

Kepala Bidang Pariwisata pada Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) KBB, David Oot, mengatakan bahwa penutupan ini diterapkan sesuai standar operasional prosedur (SOP) pengelolaan destinasi wisata alam, khususnya yang berada di kawasan aliran sungai dan perbukitan rawan bencana.

“Destinasi wisata yang terdampak dan ditutup sementara antara lain Curug Bugbrug, Curug Tilu, Curug Pelangi, Curug Layung, serta Situ Reret. Penutupan berlaku sampai batas waktu yang belum ditentukan, menunggu kondisi dinyatakan aman untuk menerima kunjungan wisatawan,” ujar David, Senin (26/1/2026).

Menurut dia, Curug Bugbrug, Curug Tilu, dan Curug Pelangi berada dalam satu aliran sungai yang sama, sehingga memiliki tingkat kerawanan serupa ketika terjadi cuaca ekstrem maupun pergerakan tanah. Karena itu, pengelola bersama pemerintah daerah sepakat menghentikan sementara aktivitas wisata di kawasan tersebut.

David menegaskan, langkah ini merupakan bagian dari penerapan manajemen krisis kepariwisataan yang wajib dilakukan saat terjadi bencana alam. Ia menyebut sektor pariwisata sebagai business of trust atau bisnis berbasis kepercayaan.

“Wisatawan bukan hanya membeli tiket atau destinasi, tetapi juga membeli rasa aman. Tanpa jaminan keselamatan, kepercayaan itu bisa hilang,” katanya.

Ia menambahkan, dalam dinamika global yang diwarnai fenomena poly-crisis—mulai dari perubahan iklim ekstrem hingga ketidakpastian geopolitik—sektor pariwisata menjadi salah satu industri yang paling rentan terdampak. Namun di sisi lain, pariwisata juga diharapkan menjadi sektor yang paling cepat pulih.

Karena itu, Disparbud KBB mendorong pergeseran paradigma dari pariwisata berbasis jumlah kunjungan (quantity tourism) menuju pariwisata berkualitas dan berkelanjutan (quality and sustainable tourism).

“Inti dari pariwisata berkelanjutan adalah keamanan dan ketahanan. Tidak ada pariwisata yang berkelanjutan tanpa jaminan keselamatan bagi setiap jiwa yang terlibat,” ucap David.

Ia juga mengakui bahwa selama ini fokus pengembangan pariwisata kerap lebih menitikberatkan pada promosi, sementara aspek mitigasi risiko operasional dan kebencanaan masih perlu diperkuat.

“Di sinilah manajemen krisis menjadi krusial. Keselamatan harus menjadi fondasi utama sebelum kita berbicara soal promosi dan kunjungan,” pungkasnya.*

Pos terkait