Cap Tangan Berusia 67.800 Tahun Ditemukan di Indonesia, Menjadi Seni Gua Tertua di Dunia

Seni cadas di Pulau Muna ini lebih tua sekitar 16.600 tahun dibandingkan seni cadas Maros–Pangkep, Sulawesi Selatan. Temuan tersebut juga melampaui usia cap tangan dari Spanyol yang sebelumnya dikaitkan dengan Neanderthal dan lama dianggap sebagai seni gua tertua di dunia.(Instagram BRIN).**

SATUMEDIA.ID – Indonesia kembali mencatatkan namanya dalam sejarah peradaban dunia. Penelitian terbaru mengungkap keberadaan seni cadas tertua yang pernah ditemukan, berupa cap tangan manusia berusia setidaknya 67.800 tahun di Leang Metanduno, Pulau Muna, Sulawesi Tenggara.

Temuan ini merupakan hasil kolaborasi tim peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Griffith University dan Southern Cross University, Australia. Hasil riset tersebut telah dipublikasikan dalam jurnal ilmiah internasional.

Penemuan tersebut menempatkan Kepulauan Indonesia sebagai salah satu pusat terpenting dalam sejarah awal seni simbolik manusia modern, sekaligus memperkuat bukti bahwa penjelajahan laut telah dilakukan secara sengaja sejak hampir 70.000 tahun lalu.

Peneliti Pusat Riset Arkeometri BRIN, Adhi Agus Oktaviana, menjelaskan bahwa usia minimum seni cadas di Pulau Muna ini lebih tua sekitar 16.600 tahun dibandingkan seni cadas Maros–Pangkep, Sulawesi Selatan. Temuan tersebut juga melampaui usia cap tangan dari Spanyol yang sebelumnya dikaitkan dengan Neanderthal dan lama dianggap sebagai seni gua tertua di dunia.

“Ini adalah seni cadas tertua yang pernah tertanggal secara andal hingga saat ini,” ujar Adhi dalam siaran pers BRIN yang dikutip Kamis (29/1/2026).

Untuk memastikan usia lukisan gua tersebut, tim peneliti menerapkan teknik penanggalan laser-ablation uranium-series (LA–U-series) pada lapisan kalsit mikroskopis yang menutupi pigmen lukisan. Hasil analisis menunjukkan umur 71,6 ± 3,8 ribu tahun, yang menetapkan batas usia minimum 67,8 ribu tahun bagi cap tangan 8p.

Adhi menambahkan, temuan ini menegaskan bahwa wilayah Wallacea—yang mencakup Sulawesi—bukan sekadar jalur migrasi menuju Australia, melainkan ruang hidup utama manusia modern awal.

“Sangat mungkin pembuat lukisan ini merupakan bagian dari populasi yang kemudian menyebar ke timur dan akhirnya mencapai Australia,” kata dia.

Temuan ini juga memperkuat model kronologi panjang yang menyatakan bahwa manusia telah mencapai daratan Sahul (Australia–Papua) setidaknya sekitar 65.000 tahun lalu. “Penemuan ini memberikan dukungan kuat bahwa leluhur masyarakat Aborigin Australia telah berada di Sahul pada atau sebelum 65.000 tahun yang lalu,” ujar Adhi.

Prof Renaud Joannes-Boyau menilai penelitian ini memberikan bukti langsung tertua keberadaan manusia modern di jalur migrasi utara menuju Sahul, yang melibatkan penyeberangan laut antara Kalimantan dan Papua—wilayah yang hingga kini masih relatif minim kajian arkeologis.

Sementara itu, Prof Maxime Aubert menegaskan bahwa Sulawesi merupakan salah satu pusat budaya artistik tertua dan paling berkelanjutan di dunia. “Akar tradisi seni ini berasal dari fase paling awal hunian manusia di kawasan ini,” ujarnya.

Keunikan lain dari seni cadas Pulau Muna ini terletak pada bentuk cap tangan yang memperlihatkan penyempitan jari hingga menyerupai cakar (narrow finger). Menurut Prof Adam Brumm dari Griffith University, ciri tersebut mencerminkan ekspresi simbolik yang matang dan jarang ditemukan secara global.

“Maknanya masih spekulatif, tetapi bisa saja melambangkan hubungan erat antara manusia dan hewan. Tema ini sudah muncul dalam seni lukis paling awal di Sulawesi, termasuk adegan yang kami tafsirkan sebagai makhluk setengah manusia dan setengah hewan,” kata Brumm.

Kepala Pusat Arkeometri BRIN, Sofwan Noewidi, menyebut temuan ini sebagai tonggak penting dalam pengembangan arkeologi berbasis sains material di Indonesia. Menurutnya, penerapan teknologi mutakhir seperti LA–U-series memungkinkan penentuan kronologi budaya secara jauh lebih presisi.

“Kami tidak lagi bergantung pada penanggalan tidak langsung. Lapisan kalsit berfungsi sebagai arsip mikrostratigrafi alami yang memberi batas umur minimum yang andal bagi aktivitas simbolik manusia modern,” ujar Sofwan.

Seiring dengan semakin banyaknya temuan seni cadas Pleistosen di kawasan karst Sulawesi, para peneliti menekankan pentingnya upaya pelestarian. Perlindungan kawasan karst yang mengandung situs seni cadas purba dinilai harus menjadi bagian integral dari perencanaan tata ruang dan kebijakan pengelolaan sumber daya alam.

Penelitian ini juga melibatkan Kementerian Kebudayaan, Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XVIII dan XIX, Universitas Hasanuddin, Universitas Halu Oleo, serta Institut Teknologi Bandung (ITB).*

Pos terkait