SATUMEDIA.ID – Pisang bukan sekadar buah konsumsi sehari-hari, tetapi menjadi komoditas strategis yang menopang ketahanan pangan dunia. Di tengah perannya yang vital, produksi pisang global kini menghadapi ancaman serius dari hama dan penyakit yang berpotensi menurunkan hasil panen serta mengganggu stabilitas ekonomi petani.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama sejumlah mitra internasional mendorong inovasi pemuliaan pisang berbasis bioteknologi untuk menghasilkan varietas unggul yang lebih tahan terhadap penyakit utama.
Kepala Pusat Riset Rekayasa Genetika BRIN, Ratih Asmana Ningrum, menyebutkan bahwa penyakit layu Panama yang disebabkan jamur Fusarium oxysporum f. sp. cubense menjadi salah satu ancaman paling serius karena mampu bertahan lama di tanah dan sulit dikendalikan.
Selain itu, virus Banana Bunchy Top (BBTV) yang disebarkan serangga juga menjadi tantangan besar bagi produksi pisang di berbagai negara.
“Pendekatan konvensional sudah tidak cukup untuk menghadapi patogen ini. Pemuliaan varietas tahan penyakit merupakan strategi jangka panjang yang paling berkelanjutan,” ujar Ratih dalam siaran pers yang dikutip Rabu (18/2/2026).
Namun, pemuliaan pisang tidak mudah. Sebagian besar pisang konsumsi bersifat steril dan poliploid, sehingga teknik persilangan tradisional memiliki keterbatasan. Karena itu, para peneliti menggabungkan teknologi modern seperti gene editing, hibridisasi somatik, dan analisis genomik untuk mempercepat pengembangan varietas unggul.
Indonesia memiliki keunggulan tersendiri karena dikenal sebagai salah satu pusat asal pisang dunia dengan keragaman pisang liar yang tinggi. Melalui proyek ini, para peneliti mengoleksi dan mempelajari pisang liar sebagai sumber genetik yang memiliki potensi ketahanan alami terhadap penyakit.
Genotipe unggul yang dihasilkan nantinya akan menjadi induk persilangan dalam menciptakan varietas pisang baru yang adaptif terhadap perubahan lingkungan dan serangan patogen.
Riset tersebut melibatkan kolaborasi global dengan berbagai lembaga riset dan universitas internasional, termasuk University of Queensland, Wageningen University & Research, hingga International Institute for Tropical Agriculture (IITA) di Afrika.
Kepala BRIN Arif Satria mengatakan bahwa kerja sama lintas negara menjadi kunci untuk menjawab tantangan pangan global.
“Indonesia memiliki kekayaan genetik pisang liar yang sangat berharga. Ini adalah fondasi penting untuk menghadirkan varietas pisang masa depan yang lebih tahan dan produktif,” ujarnya.
Sebagai bagian dari program ini, Banana Innovation, Network, Database (BIND) Center juga diresmikan sebagai pusat kolaborasi global riset pisang. Melalui platform tersebut, data hasil eksplorasi dan pemuliaan akan dihimpun dalam database INA-BAN guna mendukung kebijakan pengembangan varietas secara berkelanjutan.
Melalui riset ini, BRIN berharap inovasi ilmiah tidak hanya mendorong kemajuan teknologi pertanian, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan dunia sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani kecil di berbagai negara.*





