SATUMEDIA.ID – Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta berencana menggelar haul ulama Betawi di kawasan Monumen Nasional (Monas). Kegiatan tersebut diperkirakan akan melibatkan sekitar 50 hingga 100 ulama untuk didoakan bersama sebagai bentuk penghormatan atas jasa mereka dalam menyebarkan syiar Islam di Ibu Kota.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengatakan, kegiatan itu diyakini membawa manfaat bagi masyarakat sekaligus memperkuat hubungan antara pemerintah dan tokoh agama.
“Sebagai Gubernur Jakarta, saya meyakini hubungan yang baik antara ulama, umara, dan masyarakat akan membawa ketenangan serta kesejukan bagi kita semua,” ujar Pramono.
Ia menjelaskan, haul tersebut diusulkan menjadi agenda rutin dalam rangka menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) DKI Jakarta setiap bulan Juni. Menurut dia, peran ulama Betawi sangat besar dalam membangun fondasi kehidupan keagamaan di Jakarta.
“Dalam setiap menyambut Hari Ulang Tahun Jakarta pada bulan Juni, saya mengusulkan haul bagi ulama Betawi yang telah memberikan kontribusi besar dalam penyebaran agama Islam di Jakarta,” katanya.
Pramono menilai tidak banyak provinsi yang memiliki kehidupan keagamaan sekuat Jakarta. Ia meyakini kondisi tersebut tidak terlepas dari peran para ulama yang selama ini aktif membina umat dan menjaga nilai-nilai spiritual di tengah masyarakat urban.
Selain rencana haul, Pemprov DKI juga akan menggelar Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) hingga tingkat kelurahan. Para pemenang MTQ direncanakan akan mendapatkan hadiah umrah.
Menurut Pramono, penyelenggaraan MTQ hingga level terbawah diharapkan mampu menjaring bibit unggul sejak dini, bahkan hingga tingkat RT dan RW.
“Ini akan jauh lebih meriah sekaligus menjaring bakat hingga tingkat kelurahan, kecamatan, bahkan mungkin RT/RW. Ini menjadi hal yang baik bagi kita semua,” ujarnya.
Rencana tersebut disampaikan Pramono saat menghadiri acara buka puasa bersama warga di Masjid Jami Al Istiqomah, Jumat (27/2/2026).
Dalam kesempatan itu, ia juga mengapresiasi peran masjid sebagai pusat ibadah sekaligus ruang sosial yang mempererat persaudaraan warga.
Menurut Pramono, masjid bukan hanya tempat beribadah, tetapi juga penopang moral dan spiritual masyarakat.
“Saya yakin ulama yang mendirikan masjid ini adalah sosok yang mendapat syafaat karena doa yang tidak pernah putus dari siapa pun yang datang ke tempat ini,” pungkasnya.*





