SATUMEDIA.ID – Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan mengungkapkan dirinya pernah berselisih pandang dengan Utusan Khusus Amerika Serikat untuk Urusan Iklim, John Kerry, terkait kebijakan lingkungan yang dinilai terlalu mendikte Indonesia.
Menurut Luhut, setiap kebijakan yang diambil pemerintah harus mempertimbangkan kepentingan generasi masa depan Indonesia, bukan semata mengikuti tekanan dari negara lain.
“Saya bilang kepada John Kerry bahwa saya punya tanggung jawab terhadap generasi mendatang Indonesia,” kata Luhut saat menjadi pembicara dalam kuliah umum di Universitas Jenderal Achmad Yani (Unjani), Rabu (11/3/2026).
Luhut menuturkan, sikap tersebut juga dipengaruhi pesan sederhana dari cucunya yang baru menyelesaikan studi di Tsinghua University dan kini bekerja di Asia Society di New York.
“Pesan cucuku sangat sederhana, ‘Opung, jangan pernah membuat kebijakan yang bertentangan dengan kepentingan generasi saya,’” ujar Luhut.
Ia menegaskan Indonesia tidak bisa diatur-atur oleh pihak asing dalam menentukan arah kebijakan nasional, termasuk terkait isu lingkungan dan pembangunan.
Dalam kuliah umum bertema Optimalisasi Peran dan Karakter Mahasiswa dalam Pemanfaatan Bonus Demografi Guna Mewujudkan Indonesia Emas 2045 itu, Luhut juga menyoroti kondisi global yang menurutnya tengah berada pada tingkat ketidakpastian tinggi.
Menurut dia, perubahan rantai pasok global, perlambatan ekonomi China, serta konflik geopolitik seperti Perang Rusia–Ukraina dan ketegangan di Timur Tengah turut memengaruhi stabilitas ekonomi dunia.
Meski demikian, Luhut menyebut kerja sama Indonesia dengan China selama satu dekade terakhir telah membantu mendorong program hilirisasi industri di dalam negeri.
“Kita berhasil menjaga surplus ekspor selama 63 bulan berturut-turut,” ujarnya.
Luhut juga mengingatkan mahasiswa agar tidak mudah terpengaruh informasi di media sosial terkait isu ekonomi maupun kebijakan pemerintah.
Ia mengatakan pemerintah telah terlibat langsung dalam berbagai perundingan ekonomi global, termasuk komunikasi intensif dengan pemerintah Amerika Serikat terkait kebijakan tarif perdagangan.
“Kalian sebagai mahasiswa jangan terlalu cepat terpengaruh dengan konten di media sosial. Gunakan berbagai sumber informasi seperti Google atau AI untuk mendapatkan gambaran yang lebih akurat,” kata Luhut.
Sementara itu, Rektor Unjani Agus Subagyo mengatakan kuliah umum tersebut bertujuan memperkuat karakter mahasiswa dalam menghadapi bonus demografi menuju Indonesia Emas 2045.
Ia berharap mahasiswa mampu menjadi generasi yang adaptif terhadap perubahan global sekaligus memiliki kepemimpinan kuat di masa depan.
Ia menilai kepemimpinan Luhut menjadi contoh penting bagi mahasiswa, terutama dalam berbagai program strategis nasional seperti penanganan pandemi Covid-19 dan program Citarum Harum.
“Dengan bonus demografi pada 2030–2040, kami berharap mahasiswa bisa menjadi bagian penting dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045,” pungkas Agus.*





