Kenali Jenis Ayam Petelur, Kadispernakan KBB: Kunci Produksi Telur yang Optimal

Ilustrasi ayam petelur.(Dicky Mawardi/Satumedia).**

SATUMEDIA.ID – Ayam petelur menjadi salah satu komoditas unggulan di sektor peternakan karena berperan penting dalam memenuhi kebutuhan protein hewani masyarakat melalui produksi telur.

Kepala Dinas Perikanan dan Peternakan (Dispernakan) Kabupaten Bandung Barat (KBB), Wiwin Aprianti menjelaskan bahwa ayam petelur merupakan jenis ayam yang dipelihara khusus untuk menghasilkan telur secara rutin dengan produktivitas tinggi.

“Dengan pengelolaan yang baik, ayam petelur mampu menghasilkan telur secara teratur sehingga menjadi sumber pangan penting bagi masyarakat,” ujar Wiwin didampingi Penyuluh Lapangan, Muhammad Fulqi Labib, Sabtu (14/3/2026).

Menurut dia, keberhasilan usaha peternakan ayam petelur tidak terlepas dari tiga faktor utama, yakni kualitas bibit, pakan yang bermutu, serta manajemen pemeliharaan yang tepat. Ketiga aspek tersebut saling berkaitan dan berpengaruh terhadap tingkat produksi telur.

Dua Jenis Ayam Petelur

Wiwin menyebut, secara umum, ayam petelur dibedakan menjadi dua jenis utama, yaitu tipe ringan dan tipe medium.

Ayam petelur tipe ringan (light breed) memiliki ukuran tubuh relatif kecil, pertumbuhan cepat, serta aktivitas yang tinggi. Jenis ini juga dikenal lebih efisien dalam penggunaan pakan.

Ayam tipe ringan mampu menghasilkan telur dalam jumlah banyak, bahkan bisa mencapai lebih dari 260 butir per tahun. Namun ukuran telur biasanya lebih kecil dengan cangkang berwarna putih. Di sisi lain, ayam jenis ini cenderung lebih sensitif terhadap suhu panas dan kebisingan.

Sementara itu, ayam petelur tipe medium memiliki ukuran tubuh yang lebih besar dan pertumbuhan yang lebih lambat. Ayam jenis ini cenderung lebih tenang dan tidak terlalu aktif.

“Telur yang dihasilkan umumnya berukuran lebih besar dengan cangkang berwarna coklat, meskipun jumlah produksinya tidak sebanyak ayam tipe ringan,” terang Wiwin.

Beberapa strain ayam petelur tipe medium yang banyak dibudidayakan di Indonesia antara lain Lohmann Brown, Hysex Brown, Hyline Brown, dan Isa Brown.

Fulqi menambahkan, pemilihan jenis ayam petelur harus disesuaikan dengan kondisi lingkungan peternakan, manajemen pemeliharaan, serta target produksi yang ingin dicapai peternak.

“Jika dikelola dengan baik, kedua jenis ayam petelur ini sama-sama mampu memberikan hasil produksi telur yang optimal,” katanya.

Dalam usaha peternakan ayam petelur, peternak juga perlu mewaspadai berbagai penyakit yang dapat menurunkan produktivitas.

Beberapa penyakit bakteri yang sering menyerang antara lain kolera ayam (pasteurellosis) yang ditandai demam, diare hijau, hingga kematian mendadak. Selain itu terdapat penyakit coryza atau snot yang menyebabkan lendir berbau dari hidung dan pembengkakan pada wajah ayam.

Penyakit lain yang perlu diwaspadai yakni pullorum atau salmonellosis yang banyak menyerang anak ayam, cacingan, serangan kutu dan tungau, serta koksidiosis yang disebabkan oleh protozoa.

Selain penyakit infeksi, ayam petelur juga dapat mengalami gangguan akibat kekurangan gizi seperti defisiensi kalsium atau vitamin D3 yang menyebabkan kerabang telur tipis dan mudah pecah.

“Untuk mencegah masuk dan menyebarnya penyakit, peternakan ayam perlu menerapkan sistem biosekuriti secara ketat,” sebut Fulqi .

Biosekuriti merupakan upaya perlindungan untuk menjaga ayam dari infeksi patogen sekaligus memastikan kualitas serta jumlah produksi telur tetap optimal.

Beberapa langkah yang perlu diterapkan antara lain memisahkan ayam sakit dari ayam sehat, membersihkan kandang secara rutin, melakukan desinfeksi peralatan dan kendaraan yang masuk, serta membatasi lalu lintas orang maupun barang di area peternakan.

Selain itu, pekerja peternakan juga dianjurkan menggunakan pakaian dan alas kaki khusus serta menjaga kebersihan tangan sebelum dan sesudah masuk kandang.

Dengan penerapan manajemen pemeliharaan yang baik serta biosekuriti yang ketat, produksi telur ayam petelur diharapkan dapat tetap optimal dan mampu memenuhi kebutuhan pangan masyarakat.*

Pos terkait