DLH DKI Tutup TPS Liar Rawadas, Pemprov Perketat Pengawasan di Bawah Tol Wiyoto Wiyono

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) bergerak cepat menangani persoalan sampah yang meningkat pascalibur Lebaran.(Dok.Diskominfotik Pemprov DKI Jakarta).**

SATUMEDIA.ID – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) bergerak cepat menangani persoalan sampah yang meningkat pascalibur Lebaran. Salah satu langkah tegas yang dilakukan adalah menutup permanen tempat pembuangan sampah (TPS) liar Rawadas di kawasan TPU Pondok Kopi, Jakarta Timur.

Penutupan TPS liar tersebut dilakukan melalui kolaborasi antara pihak kecamatan, kelurahan, dan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP). Hingga Rabu (1/4/2026) malam, lokasi yang sebelumnya dipenuhi sampah kini telah sepenuhnya bersih.

Upaya serupa juga tengah dilakukan di TPS Kencana yang berada di bawah ruas Jalan Tol Wiyoto Wiyono atau Tol Tanjung Priok. Saat ini, proses pengosongan masih berlangsung sebelum nantinya ditutup permanen.

Sebagai langkah pencegahan, area tersebut akan dilengkapi pagar besi serta diperkuat pengawasannya melalui posko bersama yang melibatkan Lembaga Musyawarah Kelurahan (LMK), Satpol PP, dan unsur kepolisian.

Kepala DLH DKI Jakarta, Asep Kuswanto, mengatakan penanganan ini dilakukan menyusul penumpukan sampah di sejumlah titik di dalam kota, yang dipicu oleh meningkatnya volume sampah pascalebaran serta dampak insiden longsor di TPST Bantargebang.

“Pascalebaran dan adanya kejadian longsor di TPST Bantargebang beberapa waktu lalu, terjadi penumpukan sampah di beberapa titik di dalam kota. Kami tidak menutup-nutupi kondisi ini dan menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat atas ketidaknyamanan yang terjadi,” ujar Asep dikutip Jumat (3/4/2026).

Menurut dia, kondisi tersebut berdampak pada penyesuaian operasional pengangkutan sampah menuju TPST Bantargebang. DLH menerapkan sistem pengaturan waktu (shifting) untuk mencegah antrean truk dan kepadatan di area maupun akses menuju lokasi.

Asep menegaskan, pihaknya tidak membatasi kuota pengiriman sampah, melainkan mengoptimalkan distribusi melalui pengaturan kerja yang lebih terukur. Saat ini, pengangkutan sampah dibagi ke dalam tiga shift setiap hari guna memperlancar arus pengiriman.

Dengan skema tersebut, waktu tunggu (dwelling time) truk sampah dapat dikendalikan agar tidak melebihi tiga jam. Selain meningkatkan efisiensi, kebijakan ini juga bertujuan menjaga keselamatan dan kesehatan para pengemudi.

“Kami ingin memastikan para sopir bekerja dalam kondisi aman dan teratur, sekaligus menjaga kelancaran operasional pengangkutan sampah,” katanya.

Seiring percepatan pengangkutan, DLH juga melakukan penanganan intensif di sejumlah titik yang sebelumnya mengalami penumpukan. Salah satunya di TPS Kali Anyar yang kini telah bersih setelah proses pengosongan rampung.

DLH menargetkan, dalam pekan ini operasional pengangkutan sampah ke TPST Bantargebang dapat kembali normal. Sisa sampah pascaarus balik Lebaran juga diupayakan segera tertangani dan didistribusikan ke berbagai fasilitas pengolahan, termasuk TPST Bantargebang dan RDF Plant.

“Kami berkomitmen mempercepat penanganan sampah di dalam kota agar tidak menimbulkan ketidaknyamanan bagi warga. Seluruh jajaran DLH terus bekerja maksimal agar kondisi segera pulih dan pelayanan pengangkutan sampah tetap berjalan optimal,” pungkas Asep.*

Pos terkait