SATUMEDIA.ID – Fenomena hujan es mengejutkan warga Kecamatan Margaasih, Kabupaten Bandung, pada Selasa (14/4/2026) siang. Butiran es jatuh menghantam atap rumah hingga menimbulkan suara keras.
Salah seorang warga, Dewi Astuti (48), mengatakan peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 13.30 WIB di Perumahan CCI, Desa Mekarrahyu. Ia menuturkan, hujan es diawali dengan kondisi langit yang tiba-tiba mendung disertai bunyi halilintar yang sangat keras.
“Kejadiannya Selasa siang sekitar pukul 13.30 WIB. Diawali langit mendung serta terdengar bunyi halilintar yang sangat keras,” ujar Dewi.
Tak lama kemudian, Dewi mendengar suara benturan keras di atap rumahnya. Awalnya, ia mengira ada seseorang yang melempar kerikil atau batu kecil ke arah rumahnya. Namun setelah memberanikan diri keluar, ia mendapati butiran es berserakan di pekarangan.
“Dikira ada orang melempar kerikil atau batu kecil ke atap rumah, ternyata terlihat dari pekarangan rumah banyak butiran es. Kejadiannya sebelum hujan lebat turun,” katanya.
Menurut Dewi, hujan es hanya berlangsung singkat, sekitar 10 detik. Setelah itu, hujan deras disertai angin kencang mengguyur wilayah tersebut selama kurang lebih setengah jam.
“Kejadian hujan esnya hanya beberapa detik, paling 10 detikan. Yang lama itu hujan derasnya sampai setengah jam,” pungkasnya.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa hujan es merupakan presipitasi berupa butiran es keras yang jatuh dari awan ke permukaan bumi. Fenomena ini berasal dari awan Cumulonimbus (Cb), yaitu awan hujan yang menjulang tinggi dan biasanya juga menghasilkan hujan lebat, angin kencang, serta petir.
Meskipun sering dianggap hanya terjadi di negara beriklim dingin, hujan es juga kerap muncul di Indonesia, terutama di wilayah Jawa, Sumatra, dan Sulawesi. Kondisi ini umumnya terjadi pada masa peralihan musim atau pancaroba, ketika atmosfer menjadi sangat labil.
Proses Terbentuknya Hujan Es
BMKG menjelaskan bahwa hujan es terbentuk melalui beberapa tahapan di dalam awan, antara lain:
Pertumbuhan awan sangat tinggi
Pemanasan matahari yang kuat menyebabkan udara naik secara intens, sehingga awan Cumulonimbus dapat tumbuh hingga ketinggian 15–18 kilometer, mencapai lapisan atmosfer dengan suhu di bawah 0 derajat Celsius.
Adanya tetes air superdingin
Di dalam awan terdapat tetesan air dengan suhu di bawah titik beku namun belum membeku, yang dikenal sebagai supercooled water.
Pembentukan inti es
Ketika tetesan superdingin bertemu partikel debu atau kristal es, air tersebut membeku dan membentuk inti hujan es.
Pertumbuhan berlapis akibat arus naik
Inti es terbawa arus udara naik (updraft) yang kuat, sehingga bergerak naik-turun di dalam awan dan terus menambah lapisan es.
Jatuh ke permukaan bumi
Saat ukuran dan beratnya melebihi kekuatan arus naik, butiran es akhirnya jatuh ke permukaan sebagai hujan es.
Hujan es di wilayah tropis memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan dengan di lintang menengah, di antaranya:
Terjadi dalam waktu singkat, umumnya 5–15 menit.
Ukuran es relatif kecil hingga sedang.
Hampir selalu disertai hujan lebat, angin kencang, dan petir.
Didahului langit yang gelap, angin mendadak kencang, serta suhu udara yang terasa lebih dingin.
Fenomena hujan es ini menjadi pengingat bagi masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem, khususnya pada masa pancaroba yang kerap memicu kejadian serupa di berbagai wilayah Indonesia.*





