SATUMEDIA.ID – Jalan Raya Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, kembali berubah bak aliran sungai setelah luapan Sungai Citarum menggenangi kawasan tersebut. Genangan air setinggi 30 hingga 40 sentimeter terpantau di belokan depan Masjid Besar Dayeuhkolot pada Selasa (14/4/2026) siang.
Berdasarkan pantauan di lapangan, banjir sempat surut sebelumnya. Namun, hujan deras yang mengguyur wilayah Bandung pada Senin (13/4/2026) siang menyebabkan debit Sungai Citarum meningkat dan kembali meluap ke badan jalan.
“Senin kemarin, sekitar jam dua siang turun hujan lebat membuat debit air Sungai Citarum naik. Limpasannya langsung menggenangi jalan,” ujar Imas Masitoh (52), warga Kampung Bolero RT 01/RW 08, Desa Dayeuhkolot.
Menjelang malam, ketinggian air terus meningkat hingga hampir mencapai Jembatan Dayeuhkolot. Pada Selasa pagi hingga siang, genangan mulai berangsur surut dan tersisa sekitar 30 sentimeter. Meski demikian, warga masih dihantui kekhawatiran banjir akan kembali meninggi apabila hujan turun lagi.
“Saya khawatir kalau hujan turun lagi, genangan air akan kembali naik. Biasanya memang seperti itu. Sebaliknya, bila tidak turun hujan selama dua hari, banjir di jalan bisa surut,” kata Imas.
Imas menuturkan, banjir pada awal tahun 2026 tidak separah yang terjadi pada 2025. Saat itu, banjir yang bertepatan dengan bulan Ramadhan bahkan merendam rumahnya hingga memaksanya mengungsi.
“Tahun lalu saya sempat mengungsi ke Masjid Dayeuhkolot karena rumah kebanjiran. Alhamdulillah beberapa hari sebelum Lebaran air surut sehingga saya bisa merayakan Lebaran di rumah,” tuturnya.
Banjir yang merendam jalan utama ini juga berdampak pada aktivitas lalu lintas. Dalam waktu sekitar satu jam, puluhan sepeda motor dilaporkan mogok saat melintasi genangan terdalam. Sejumlah anak-anak setempat dengan sigap membantu pengendara menepikan dan memperbaiki kendaraan mereka.
Tak hanya mendorong motor, anak-anak tersebut juga membantu menghidupkan kembali mesin yang mati, seolah telah terbiasa menghadapi situasi serupa.
“Tadi motor saya mogok di genangan paling dalam. Beruntung dibantu anak-anak untuk menepikan motor ke pinggir. Mereka juga hebat bisa menghidupkan kembali motor saya. Upahnya hanya Rp10.000,” ujar Dendi, warga Cimaung.
Banjir yang kerap melanda kawasan Dayeuhkolot ini kembali menegaskan perlunya penanganan komprehensif terhadap Sungai Citarum, guna meminimalkan dampak bagi masyarakat dan kelancaran aktivitas ekonomi di wilayah tersebut.





