Minyak Jelantah dari Dapur MBG Tembus 6 Juta Liter Per Bulan

Ilustrasi minyak jelantah.(Dicky Mawardi/Satumedia).**

SATUMEDIA.ID – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai memunculkan dampak turunan di luar sektor pangan. Dari ribuan dapur MBG yang beroperasi setiap hari, jutaan liter minyak jelantah kini diproyeksikan menjadi sumber energi hijau baru yang bernilai ekonomi.

Potensi besar itu terungkap dalam kerja sama antara Badan Gizi Nasional dan PT Pertamina (Persero) terkait pemanfaatan minyak jelantah untuk pengembangan energi alternatif rendah karbon.

Kepala BGN, Dadan Hindayana, mengatakan setiap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) rata-rata menghabiskan sekitar 800 liter minyak goreng per bulan. Sebagian besar minyak tersebut kemudian berubah menjadi minyak jelantah.

“Sekitar 70 persen akan berakhir menjadi minyak jelantah,” ujar Dadan dalam siaran pers dikutip Minggu (10/5/2026).

Menurut dia, satu SPPG dapat menghasilkan sekitar 500 hingga 590 liter minyak jelantah setiap bulan. Jika dikalkulasikan dengan jumlah SPPG yang kini mencapai sekitar 17.200 unit di Pulau Jawa, total minyak jelantah yang terkumpul diperkirakan menembus 6 juta liter per bulan.

Angka itu dinilai menjadi peluang besar untuk membangun rantai ekonomi sirkular sekaligus mendukung pengembangan energi ramah lingkungan.

Dadan menegaskan, minyak goreng di dapur MBG tidak digunakan berulang kali demi menjaga kualitas makanan bagi penerima manfaat. Dalam aturan operasional BGN, minyak maksimal dipakai tiga kali penggorengan sebelum diganti.

“Minyak tidak boleh sering digunakan. Maksimal rata-rata tiga kali goreng lalu menjadi minyak jelantah,” katanya.

Ia menilai, kebijakan tersebut bukan hanya menjaga mutu pangan, tetapi juga membuka peluang pemanfaatan limbah minyak menjadi produk bernilai tambah, termasuk bahan baku energi alternatif.

Selain minyak jelantah, BGN juga mulai mengembangkan penggunaan energi bersih lain di lingkungan SPPG, seperti jaringan gas alam dan compressed natural gas (CNG), guna menciptakan operasional dapur yang lebih efisien dan rendah emisi.

Menurut Dadan, kerja sama dengan Pertamina menjadi langkah awal agar limbah minyak goreng tidak lagi sekadar dibuang, melainkan diolah menjadi sumber energi yang memiliki nilai ekonomi.

“Minyak yang tadinya sampah menjadi bernilai, yang tadinya dibuang menjadi uang,” ujar Dadan.*

Pos terkait